Namun demikian, di balik prestasi gemilang tersebut, terdapat tantangan serius terkait rendahnya minat generasi muda terhadap pencak silat. Data menunjukkan bahwa tingkat partisipasi anak dan remaja dalam pencak silat masih relatif rendah dibandingkan dengan olahraga modern lainnya. Fenomena ini menjadi sinyal peringatan bahwa tanpa intervensi kebijakan yang tepat, pencak silat berpotensi kehilangan regenerasi di masa depan.
Rendahnya minat generasi muda dipengaruhi oleh berbagai faktor, mulai dari minimnya promosi, keterbatasan fasilitas, hingga kurangnya integrasi pencak silat dalam sistem pendidikan. Selain itu, dominasi budaya populer asing dan olahraga modern yang lebih masif di media digital turut memengaruhi preferensi generasi muda. Kondisi ini menuntut pendekatan baru yang lebih adaptif dan inovatif dalam mempromosikan pencak silat.
Pemerintah sebenarnya telah menempatkan olahraga sebagai bagian penting dalam pembangunan sumber daya manusia unggul. Melalui berbagai kebijakan nasional, olahraga diposisikan tidak hanya sebagai sarana kesehatan dan prestasi, tetapi juga sebagai media pembentukan karakter dan moral bangsa. Dalam kerangka ini, pencak silat memiliki relevansi yang sangat kuat karena memadukan aspek fisik, mental, dan budaya.
Namun, implementasi kebijakan terkait pencak silat masih menghadapi tantangan koordinasi lintas sektor. Sinergi antara kementerian/lembaga, pemerintah daerah, organisasi olahraga, dan institusi pendidikan belum berjalan optimal. Akibatnya, potensi pencak silat sebagai instrumen pembentuk nasionalisme belum sepenuhnya dimanfaatkan secara strategis dan berkelanjutan.
Taskap ini menekankan pentingnya menjadikan pencak silat sebagai bagian integral dari kebijakan geostrategi nasional. Dalam konteks geopolitik modern, kekuatan suatu bangsa tidak hanya ditentukan oleh aspek militer dan ekonomi, tetapi juga oleh kekuatan lunak atau soft power. Budaya dan olahraga merupakan instrumen soft power yang efektif untuk membangun citra positif bangsa di mata dunia.
Pengalaman negara lain seperti Korea Selatan dengan taekwondo dan Tiongkok dengan wushu menunjukkan bahwa olahraga tradisional dapat menjadi alat diplomasi budaya yang sangat berpengaruh. Melalui promosi global yang terstruktur, olahraga tersebut tidak hanya berkembang di dalam negeri, tetapi juga menjadi simbol identitas nasional di tingkat internasional. Indonesia memiliki peluang yang sama melalui pencak silat.
