Perubahan iklim telah menjadi isu strategis yang menuntut perhatian serius dalam konteks ketahanan nasional, sebagaimana dikaji secara mendalam oleh Kolonel Laut (P) Wirawan Ady Prasetya, S.Sos., M.Tr.Opsla., CRMP., CTMP., dalam Kertas Karya Ilmiah Perseorangan (Taskap) berjudul “Dinamika Adaptasi Masyarakat Terhadap Risiko Sistemis Perubahan Iklim Guna Mendukung Ketahanan Nasional” yang disusun dalam rangka Pendidikan Penyiapan dan Pemantapan Pemimpin Nasional (P4N) LXVIII di Lembaga Ketahanan Nasional Republik Indonesia. Karya ini menjadi refleksi akademik sekaligus kontribusi strategis dalam merespons tantangan perubahan iklim yang semakin kompleks dan berdampak lintas sektor.
Perubahan iklim bukan lagi sekadar fenomena lingkungan, melainkan telah berkembang menjadi ancaman sistemis yang memengaruhi stabilitas sosial, ekonomi, dan keamanan nasional. Peningkatan suhu global, perubahan pola curah hujan, kenaikan muka air laut, serta meningkatnya frekuensi cuaca ekstrem memicu rangkaian dampak berantai yang saling berkaitan. Kondisi ini menempatkan masyarakat sebagai aktor terdepan yang merasakan langsung dampaknya sekaligus sebagai garda awal dalam upaya adaptasi.
Indonesia, sebagai negara kepulauan dengan keragaman geografis dan sosial budaya yang tinggi, menghadapi tingkat kerentanan yang signifikan terhadap risiko perubahan iklim. Wilayah pesisir, pulau-pulau kecil, kawasan agraris, hingga perkotaan padat penduduk mengalami tekanan yang berbeda namun saling terhubung. Kerentanan tersebut diperparah oleh kesenjangan sosial-ekonomi, keterbatasan infrastruktur, serta belum meratanya kapasitas adaptasi masyarakat.
Dalam konteks inilah adaptasi masyarakat menjadi elemen kunci untuk mereduksi risiko sistemis perubahan iklim. Adaptasi dipahami bukan hanya sebagai respons reaktif terhadap bencana, tetapi juga sebagai proses proaktif dan transformatif yang melibatkan perubahan pola perilaku, pengelolaan sumber daya, serta penguatan kapasitas sosial. Adaptasi yang efektif memungkinkan masyarakat tidak hanya bertahan, tetapi juga meningkatkan daya lenting dalam menghadapi ketidakpastian iklim.
Taskap ini menegaskan bahwa masyarakat lokal memiliki modal sosial dan kearifan lokal yang bernilai strategis dalam membangun adaptasi. Pengetahuan tradisional yang diwariskan secara turun-temurun terbukti mampu menjadi dasar pengelolaan lingkungan yang berkelanjutan. Apabila dipadukan dengan sains modern dan dukungan kebijakan, dapat menghasilkan strategi adaptasi yang kontekstual dan berdaya guna tinggi.
