Pembangunan karakter bangsa merupakan fondasi utama dalam menjaga keberlanjutan Negara Kesatuan Republik Indonesia di tengah dinamika global yang semakin kompleks. Dalam konteks inilah, Wide Putra Ananda, S.E., M.H., peserta Pendidikan Penyiapan dan Pemantapan Pimpinan Nasional (P4N) LXVIII Lemhannas RI Tahun 2025, mengangkat Kertas Karya Ilmiah Perseorangan (Taskap) berjudul “Membangun Persatuan Melalui Olahraga Guna Membentuk Nasionalisme Generasi Muda”. Karya ilmiah ini berangkat dari keprihatinan terhadap melemahnya rasa kebangsaan generasi muda serta keyakinan bahwa olahraga, khususnya pencak silat, memiliki peran strategis sebagai sarana pemersatu dan pembentuk karakter bangsa.
Di era globalisasi dan digitalisasi yang serba cepat, generasi muda Indonesia dihadapkan pada arus budaya asing yang masif, nilai individualisme, serta perubahan pola interaksi sosial. Kondisi ini berpotensi menggerus jati diri bangsa apabila tidak diimbangi dengan upaya sistematis dalam menanamkan nilai-nilai kebangsaan. Nasionalisme tidak lagi cukup dibangun melalui pendekatan normatif semata, tetapi memerlukan media yang dekat dengan kehidupan generasi muda, salah satunya melalui olahraga yang bersifat inklusif dan partisipatif.
Olahraga secara universal diakui sebagai bahasa pemersatu yang mampu menembus sekat sosial, budaya, dan latar belakang. Melalui olahraga, semangat kebersamaan, sportivitas, dan solidaritas dapat tumbuh secara alami. Banyak negara memanfaatkan olahraga sebagai instrumen strategis untuk membangun identitas nasional sekaligus memperkuat posisi mereka di tingkat global. Pengalaman negara lain menunjukkan bahwa olahraga tradisional dapat diangkat menjadi simbol kebanggaan nasional yang berdaya saing internasional.
Indonesia sesungguhnya memiliki modal budaya yang sangat kuat melalui pencak silat, sebuah seni bela diri tradisional yang berakar dari nilai-nilai luhur Nusantara. Pencak silat tidak hanya mengajarkan keterampilan fisik, tetapi juga menanamkan filosofi hidup seperti disiplin, hormat, pengendalian diri, dan persaudaraan. Pengakuan UNESCO terhadap pencak silat sebagai Warisan Budaya Takbenda Dunia pada tahun 2019 semakin menegaskan posisi strategisnya sebagai identitas budaya bangsa.
Prestasi pencak silat Indonesia di berbagai ajang internasional telah berulang kali mengharumkan nama bangsa dan membangkitkan rasa bangga kolektif. Keberhasilan atlet pencak silat di SEA Games, kejuaraan dunia, hingga kompetisi internasional lainnya menjadi bukti konkret bahwa olahraga ini mampu menjadi pemicu persatuan nasional. Setiap kemenangan tidak hanya bernilai medali, tetapi juga memperkuat rasa memiliki terhadap budaya bangsa.
