Industrialisasi perikanan menjadi isu strategis yang diangkat oleh Kolonel Laut (T) Yuswardi, M.M., peserta Pendidikan Penyiapan dan Pemantapan Pimpinan Nasional (P4N) LXVIII Lemhannas RI Tahun 2025, dalam Kertas Karya Ilmiah Perseorangan (Taskap) berjudul “Industrialisasi Perikanan Guna Mendukung Ketahanan Pangan”, yang menegaskan pentingnya transformasi sektor kelautan dan perikanan sebagai penopang utama ketahanan pangan nasional di tengah tantangan global dan domestik yang semakin kompleks.
Ketahanan pangan merupakan hak dasar setiap warga negara yang dijamin oleh konstitusi dan menjadi tanggung jawab negara untuk memenuhinya secara berkelanjutan. Namun berbagai indikator global menunjukkan bahwa kondisi ketahanan pangan Indonesia masih menghadapi tantangan serius, baik dari sisi ketersediaan, kualitas, keamanan, maupun keberlanjutan pangan. Kondisi tersebut menuntut adanya terobosan kebijakan dan strategi pembangunan yang lebih terintegrasi dan berbasis potensi nasional.
Dalam konteks tersebut, sektor kelautan dan perikanan sesungguhnya memiliki posisi strategis mengingat Indonesia merupakan negara maritim dengan kekayaan sumber daya ikan dan keanekaragaman hayati laut terbesar di dunia. Laut Indonesia menyimpan potensi pangan yang sangat besar, tidak hanya sebagai sumber protein utama, tetapi juga sebagai penopang gizi dan kesehatan masyarakat dalam jangka panjang.
Meskipun demikian, potensi besar tersebut belum sepenuhnya termanfaatkan secara optimal. Kontribusi sektor perikanan terhadap ketahanan pangan nasional masih relatif rendah, tercermin dari tingkat konsumsi ikan masyarakat yang belum maksimal serta rendahnya pemanfaatan hasil perikanan bernilai tambah. Kondisi ini menunjukkan adanya kesenjangan antara potensi sumber daya dan kapasitas pengelolaan yang ada.
Industrialisasi perikanan menjadi kunci untuk menjembatani kesenjangan tersebut. Industrialisasi dipahami sebagai integrasi sistem produksi hulu hingga hilir guna meningkatkan skala usaha, produktivitas, kualitas, daya saing, dan nilai tambah produk perikanan secara berkelanjutan. Melalui pendekatan ini, sektor perikanan tidak lagi dipandang semata sebagai kegiatan ekstraktif, tetapi sebagai sistem industri yang modern dan berorientasi masa depan.
Pada sisi hulu, industri perikanan Indonesia masih dihadapkan pada berbagai persoalan struktural, seperti praktik penangkapan ikan yang tidak berkelanjutan, maraknya illegal, unreported, and unregulated fishing, serta degradasi ekosistem laut dan pesisir. Overfishing di sejumlah wilayah pengelolaan perikanan telah menekan stok ikan dan mengancam keberlanjutan produksi jangka panjang.
