Mitigasi Dampak Perubahan Iklim di Pulau Terluar sebagai Pilar Kesiapsiagaan Bencana Nasional

Selain itu, pemanfaatan teknologi sederhana namun adaptif menjadi rekomendasi penting dalam Taskap ini. Sistem peringatan dini berbasis komunitas, pemantauan cuaca lokal, serta pemanfaatan data iklim yang mudah dipahami masyarakat dapat secara signifikan mengurangi risiko korban dan kerugian saat bencana terjadi.

Dari sisi pembangunan, Taskap ini mendorong penguatan infrastruktur yang tahan terhadap dampak perubahan iklim. Pembangunan fasilitas publik, permukiman, dan sarana vital di pulau terluar harus mempertimbangkan aspek adaptasi iklim dan risiko bencana, bukan semata-mata pendekatan pembangunan konvensional.

Taskap ini juga menyoroti peluang pendanaan berkelanjutan melalui skema nasional maupun internasional, termasuk pendanaan iklim dan konservasi ekosistem pesisir. Pulau terluar seperti Miangas memiliki potensi besar dalam pengembangan ekosistem karbon biru yang dapat mendukung mitigasi perubahan iklim sekaligus meningkatkan kesejahteraan masyarakat.

Secara keseluruhan, Taskap ini memberikan gambaran komprehensif bahwa tantangan perubahan iklim di pulau terluar bukanlah isu masa depan, melainkan realitas yang sedang dihadapi saat ini. Tanpa langkah mitigasi dan kesiapsiagaan yang terencana, risiko bencana di wilayah perbatasan dapat berkembang menjadi ancaman serius bagi stabilitas nasional.

Melalui Taskap ini, penulis berharap dapat memberikan sumbangan pemikiran strategis bagi pengambil kebijakan dalam memperkuat mitigasi perubahan iklim dan kesiapsiagaan penanggulangan bencana di pulau-pulau terluar. Penguatan Pulau Miangas dan wilayah sejenisnya bukan hanya soal melindungi masyarakat lokal, tetapi juga menjaga keutuhan wilayah dan ketahanan Negara Kesatuan Republik Indonesia secara berkelanjutan. (IP/BIA)

Scroll to Top