Perubahan iklim telah menjadi isu strategis yang berdampak langsung pada ketahanan nasional, khususnya di wilayah pulau terluar Indonesia. Hal inilah yang menjadi fokus utama Kertas Karya Ilmiah Perseorangan (Taskap) berjudul “Mitigasi Dampak Perubahan Iklim di Pulau Terluar Guna Kesiapsiagaan Penanggulangan Bencana” yang disusun oleh Laksamana Pertama TNI, Nouldy J. Tangka, S.A.P., M.Tr.Opsla., CHRMP., sebagai peserta Pendidikan Penyiapan dan Pemantapan Pimpinan Nasional (P4N) LXVIII Lemhannas RI Tahun 2025. Taskap ini mengangkat Pulau Miangas sebagai lokus kajian sekaligus representasi tantangan nyata pulau-pulau terluar dalam menghadapi ancaman perubahan iklim dan bencana.
Indonesia sebagai negara kepulauan terbesar di dunia memiliki ribuan pulau kecil dan terluar yang memegang peran penting dalam menjaga kedaulatan wilayah. Namun di sisi lain, pulau-pulau tersebut berada pada tingkat kerentanan yang tinggi akibat keterbatasan infrastruktur, aksesibilitas, dan kapasitas kelembagaan. Pulau Miangas di Kabupaten Kepulauan Talaud, Sulawesi Utara, menjadi contoh konkret bagaimana posisi strategis geopolitik justru berbanding lurus dengan kerentanan ekologis dan kebencanaan.
Perubahan iklim global telah meningkatkan frekuensi dan intensitas bencana hidrometeorologi seperti badai tropis, gelombang tinggi, abrasi pantai, dan kenaikan muka air laut. Dampak tersebut dirasakan secara langsung oleh masyarakat Miangas yang sangat bergantung pada ekosistem pesisir untuk keberlangsungan hidupnya. Ketidakpastian cuaca tidak hanya mengancam keselamatan jiwa, tetapi juga memengaruhi stabilitas sosial dan ekonomi masyarakat setempat.
Dalam Taskap ini ditegaskan bahwa mitigasi perubahan iklim tidak dapat dipandang semata sebagai isu lingkungan, melainkan bagian integral dari strategi kesiapsiagaan penanggulangan bencana dan ketahanan nasional. Pulau terluar seperti Miangas merupakan garda terdepan negara yang harus dijaga keberlanjutannya, baik dari aspek fisik wilayah maupun keberlangsungan kehidupan sosial masyarakatnya.
Kondisi eksisting mitigasi bencana di Pulau Miangas masih menghadapi berbagai keterbatasan. Minimnya sistem peringatan dini, belum tersedianya shelter evakuasi yang memadai, serta terbatasnya jalur dan sarana evakuasi menjadi tantangan utama. Keterbatasan sumber daya manusia dan logistik darurat semakin memperbesar risiko ketika bencana terjadi di wilayah yang jauh dari pusat pemerintahan dan pelayanan.
