Taskap ini menilai bahwa tantangan utama pengembangan family farming saat ini terletak pada keterbatasan akses teknologi, pembiayaan, pendampingan, dan integrasi dengan sistem distribusi pangan. Oleh karena itu, diperlukan intervensi kebijakan yang terarah dan berkelanjutan untuk meningkatkan kapasitas petani keluarga.
Pendidikan dan literasi pangan juga menjadi faktor penting dalam keberhasilan strategi ini. Masyarakat perlu dibekali pengetahuan tentang pengolahan hasil panen, pola konsumsi sehat, serta pemanfaatan pangan lokal agar produksi pangan keluarga benar-benar berdampak pada peningkatan kualitas hidup.
Melalui pendekatan yang terstruktur dan kolaboratif, Revolusi Hijau melalui family farming dapat menjadi gerakan nasional yang melibatkan seluruh elemen bangsa. Gerakan ini bukan sekadar program teknis pertanian, melainkan strategi ketahanan nasional yang berakar dari kekuatan keluarga.
Taskap karya Rahel Ruth Rotinsulu ini memberikan kontribusi pemikiran strategis bagi penguatan ketahanan pangan Indonesia dengan menempatkan keluarga sebagai aktor utama pembangunan pangan. Pendekatan ini dinilai relevan, realistis, dan sejalan dengan karakter sosial budaya masyarakat Indonesia.
Pada akhirnya, ketahanan pangan nasional yang tangguh hanya dapat terwujud apabila dimulai dari ketahanan pangan keluarga. Revolusi Hijau berbasis family farming menawarkan jalan menuju kemandirian pangan yang inklusif, berkelanjutan, dan berdaya saing, sekaligus memperkuat fondasi ketahanan nasional Indonesia di masa depan. (MF/BIA)
