Dr. Lyta Permatasari, M.Si. melalui Kertas Kerja Perorangan (KKP) berjudul “Akselerasi Pengembangan SDM Unggul Guna Menghadapi Polikrisis Iklim dalam Rangka Ketahanan Nasional” yang disusun dalam Program Pendidikan Pemantapan Pimpinan Nasional (P3N) Angkatan XXV Tahun 2025 di Lemhannas RI menegaskan bahwa tantangan polikrisis iklim menuntut transformasi menyeluruh dalam pembangunan sumber daya manusia Indonesia. KKP ini hadir sebagai refleksi strategis atas kebutuhan mendesak untuk membangun SDM unggul yang adaptif, resilien, dan berorientasi keberlanjutan demi menopang ketahanan nasional di tengah dinamika global yang semakin kompleks.
Polikrisis iklim yang melanda dunia saat ini bukan sekadar persoalan lingkungan, melainkan akumulasi berbagai krisis yang saling berkaitan, mulai dari energi, pangan, air, kesehatan, hingga geopolitik. Dalam konteks Indonesia sebagai negara kepulauan dengan kerentanan tinggi terhadap bencana hidrometeorologi, dampak polikrisis tersebut berpotensi melemahkan stabilitas sosial dan ekonomi apabila tidak diantisipasi secara sistemik.
Kajian ini memetakan kondisi objektif SDM Indonesia saat ini yang masih menghadapi sejumlah tantangan mendasar. Rendahnya literasi iklim, keterbatasan green skills, serta belum terintegrasinya isu perubahan iklim dalam kurikulum pendidikan dan pelatihan menjadi hambatan serius dalam mempersiapkan tenaga kerja masa depan.
Meski demikian, Indonesia memiliki peluang besar melalui bonus demografi yang diproyeksikan berlangsung hingga 2035. Mayoritas penduduk usia produktif dapat menjadi motor penggerak transformasi ekonomi hijau apabila dibekali kompetensi yang relevan dengan kebutuhan zaman. Momentum ini harus dimanfaatkan untuk mempercepat investasi pada pendidikan, pelatihan vokasi, dan penguatan karakter berbasis nilai-nilai kebangsaan.
KKP ini juga menyoroti pentingnya perubahan paradigma kepemimpinan. Mengacu pada pendekatan transformasional seperti Theory U, pembangunan SDM unggul tidak cukup dilakukan melalui kebijakan teknokratis semata, tetapi harus dimulai dari perubahan pola pikir dan kesadaran kolektif. Kepemimpinan yang mampu mendengar, berempati, dan berkolaborasi menjadi fondasi dalam merespons kompleksitas polikrisis.
Dalam konteks ketahanan nasional, SDM unggul dipandang sebagai elemen strategis yang menentukan daya tahan dan daya pulih bangsa. Ketahanan tidak lagi dimaknai hanya dalam aspek pertahanan militer, tetapi juga dalam kapasitas sosial, ekonomi, dan ekologis masyarakat. SDM yang memiliki kesadaran lingkungan dan kemampuan adaptif akan memperkuat fondasi ketahanan tersebut secara berkelanjutan.
