Kebijakan Bioteknologi Malaysia sebagai Strategi Menghadapi Ancaman Krisis Pangan Global

Dalam pembahasannya, penulis menegaskan bahwa bioteknologi modern, termasuk rekayasa genetika dan genomik, memiliki potensi besar untuk meningkatkan ketahanan pangan melalui peningkatan hasil panen, ketahanan terhadap hama dan penyakit, serta peningkatan nilai gizi pangan.

Meski demikian, penerimaan publik terhadap produk bioteknologi menjadi tantangan tersendiri. Oleh karena itu, kebijakan bioteknologi perlu disertai dengan strategi komunikasi publik yang transparan, berbasis ilmu pengetahuan, dan sensitif terhadap nilai sosial serta budaya masyarakat.

Taskap ini juga menggarisbawahi perlunya langkah strategis untuk meningkatkan efektivitas kebijakan bioteknologi, antara lain melalui penguatan koordinasi antar lembaga, peningkatan pendanaan riset, serta penciptaan ekosistem inovasi yang kondusif bagi sektor swasta dan akademisi.

Dalam jangka panjang, kebijakan bioteknologi Malaysia diharapkan mampu berkontribusi tidak hanya pada ketahanan pangan nasional, tetapi juga pada stabilitas pangan regional dan global. Hal ini sejalan dengan peran Malaysia sebagai bagian dari komunitas internasional yang berkomitmen terhadap Tujuan Pembangunan Berkelanjutan.

Melalui Taskap ini, Kolonel Omar Zai bin Abas memberikan kontribusi pemikiran strategis bagi perumusan kebijakan bioteknologi yang lebih adaptif dan responsif. Analisis yang disajikan menunjukkan bahwa bioteknologi merupakan aset strategis yang harus dikelola secara terpadu dalam kerangka kepentingan nasional.

Secara keseluruhan, Taskap ini menegaskan bahwa menghadapi ancaman krisis pangan global tidak cukup hanya dengan kebijakan konvensional. Diperlukan keberanian inovasi, konsistensi kebijakan, dan komitmen jangka panjang untuk menjadikan bioteknologi sebagai pilar utama ketahanan pangan Malaysia di masa depan. (AT/BIA)

Scroll to Top