Sebagai salah satu peserta Pendidikan Penyiapan dan Pemantapan Pimpinan Nasional (P4N) Angkatan LXVIII Tahun 2025, Kolonel Omar Zai bin Abas TUDM yang berasal dari negara Malaysia, menyusun Kertas Karya Ilmiah Perseorangan (Taskap) berjudul “Kebijakan Bioteknologi Malaysia Guna Menghadapi Ancaman Krisis Pangan Global”. Karya ilmiah ini mengkaji secara komprehensif peran kebijakan bioteknologi dalam memperkuat ketahanan pangan Malaysia di tengah dinamika krisis pangan global yang semakin kompleks dan multidimensional.
Dalam Taskap ini, krisis pangan global dipahami sebagai kondisi yang ditandai oleh ketidakstabilan pasokan, lonjakan harga pangan, serta gangguan distribusi yang dipicu oleh perubahan iklim, pertumbuhan penduduk, konflik geopolitik, dan ketergantungan rantai pasok internasional. Situasi tersebut menuntut negara-negara, termasuk Malaysia, untuk memiliki kebijakan pangan yang adaptif, inovatif, dan berorientasi jangka panjang.
Bioteknologi dipandang sebagai salah satu instrumen strategis dalam menjawab tantangan tersebut. Melalui pemanfaatan organisme hidup dan sistem biologis, bioteknologi mampu meningkatkan produktivitas pertanian, menghasilkan varietas tanaman unggul, serta menciptakan sistem produksi pangan yang lebih efisien dan berkelanjutan. Taskap ini menegaskan bahwa bioteknologi tidak hanya berkaitan dengan aspek teknis, tetapi juga erat dengan kebijakan publik dan tata kelola nasional.
Malaysia telah menunjukkan komitmen serius terhadap pengembangan bioteknologi melalui peluncuran National Biotechnology Policy (NBP) sejak tahun 2005. Kebijakan ini menempatkan sektor pertanian sebagai salah satu pendorong utama, dengan tujuan menjadikan bioteknologi sebagai mesin pertumbuhan ekonomi baru sekaligus penopang ketahanan pangan nasional. Dalam konteks ini, pemerintah berperan sebagai pengarah, fasilitator, dan penjamin keberlanjutan kebijakan.
Taskap ini menguraikan bahwa ketahanan pangan Malaysia diukur melalui sejumlah indikator utama, antara lain Self-Sufficiency Ratio (SSR), Global Food Security Index (GFSI), dan Rice Bowl Index (RBI). Indikator-indikator tersebut memberikan gambaran mengenai kemampuan negara dalam memenuhi kebutuhan pangan domestik, keterjangkauan pangan bagi masyarakat, serta stabilitas sistem pangan nasional.
