Sementara dalam jangka panjang, Sekolah Rakyat diharapkan berkembang menjadi pusat unggulan SDM daerah. Sekolah dapat terhubung dengan politeknik, Balai Latihan Kerja, serta dunia usaha dan industri sehingga terbentuk jalur pendidikan menuju dunia kerja yang sesuai dengan potensi dan kebutuhan masing-masing daerah.
Kajian tersebut juga menekankan pentingnya penguatan ekosistem sosial dan budaya yang mendukung pendidikan. Pelibatan keluarga, tokoh masyarakat, komunitas, dan pemerintah daerah dipandang penting untuk membangun kepercayaan sekaligus mengubah cara pandang bahwa pendidikan merupakan investasi jangka panjang bagi kesejahteraan keluarga.
Pada akhirnya, Sekolah Rakyat tidak dipandang sekadar sebagai program penyediaan sekolah gratis, tetapi sebagai investasi human capital untuk membangun manusia yang produktif, berkarakter, adaptif, dan berdaya saing. Keberhasilannya berpotensi memberikan dampak berlapis terhadap pengurangan kesenjangan sosial, peningkatan produktivitas, serta penguatan kohesi nasional.
KKP Tony Kurniawan menyimpulkan bahwa peningkatan Sekolah Rakyat memerlukan penguatan sarana prasarana, pemerataan tenaga pendidik, tata kelola lintas kementerian, pengawasan digital, integrasi pendidikan akademik dan vokasi, serta komunikasi sosial-budaya yang inklusif. Dalam jangka panjang, keberadaan Sekolah Rakyat diarahkan menjadi pusat unggulan SDM daerah dengan dukungan kemitraan industri dan evaluasi berkelanjutan.
Gagasan tersebut menegaskan bahwa keberhasilan Sekolah Rakyat pada akhirnya bukan hanya diukur dari jumlah sekolah yang dibangun, tetapi dari kualitas manusia yang dihasilkan. Dengan tata kelola yang kuat, pendidikan yang relevan, dukungan masyarakat, dan keberlanjutan kebijakan, Sekolah Rakyat diharapkan mampu mengubah kerentanan sosial menjadi kekuatan produktif sekaligus menjadi bagian dari upaya mewujudkan SDM unggul dan memperkokoh Ketahanan Nasional menuju Indonesia Emas 2045. (IP/BIA)
