Menjadikan Penyelam Alam sebagai Talenta Maritim Unggul untuk Memperkuat Ketahanan Nasional

Laksamana Pertama TNI Yosua Dominggus Aipassa melalui KKP P3N XXVI Lemhannas RI Tahun 2025 berjudul “Peningkatan Kompetensi Penyelam Alam Guna Mewujudkan SDM Unggul dalam Rangka Ketahanan Nasional” mengkaji pembangunan SDM, keselamatan kerja, kemandirian industri, dan ketahanan nasional melalui peningkatan kompetensi underwater welding.

Kebutuhan tenaga ahli pengelasan bawah air terus meningkat pada industri migas lepas pantai, konstruksi maritim, dan infrastruktur bawah laut. Namun, keterbatasan kompetensi dan sertifikasi tenaga lokal masih menimbulkan ketergantungan terhadap tenaga kerja asing.

Akses pelatihan juga belum merata karena fasilitas berstandar masih terkonsentrasi di Jakarta, Cilegon, Batam, dan Surabaya. Sementara itu, biaya pelatihan dan sertifikasi sekitar Rp 40–55 juta menjadi hambatan bagi penyelam alam di wilayah pesisir dan pulau kecil.

Tingkat pendidikan menjadi tantangan lain. Studi di Bintan menunjukkan 96,96 persen dari 74 responden penyelam berpendidikan maksimal sekolah dasar, sehingga pelatihan perlu menggunakan metode praktis, visual, dan berbasis simulasi.

Kesenjangan kompetensi juga berdampak pada K3. Di Derawan, 83,3 persen dari 186 penyelam pernah mengalami kecelakaan kerja; di Bintan, 75,68 persen mengalami barotrauma telinga; sedangkan studi di Mamokeng dan Tatengesan menunjukkan tingginya kasus dekompresi dan gangguan pendengaran.

Karena itu, peningkatan kompetensi harus mencakup sertifikasi, budaya kerja, dan penerapan K3. Persoalan pendidikan, biaya, akses, pendapatan, dan perlindungan sosial perlu ditangani secara terpadu untuk memperkuat ketersediaan tenaga ahli maritim nasional.

KKP menggunakan metode deskriptif-analitis melalui studi kepustakaan dan data sekunder. Pendekatan Asta Gatra digunakan untuk menganalisis berbagai aspek ketahanan nasional, sedangkan SWOT digunakan sebagai dasar perumusan strategi.

Kajian menggunakan Human Capital Theory, Capability Approach, dan Social Cognitive Theory. Ketiganya menempatkan pelatihan sebagai investasi produktivitas, perluasan kesempatan hidup yang aman, serta pembentukan kepercayaan diri melalui pengalaman dan dukungan sosial.

Scroll to Top