Optimalisasi Pangan Akuatik: Strategi Memperkuat Ketahanan Pangan dan Ketahanan Nasional

Strategi tersebut juga menempatkan kolaborasi lintas sektor sebagai faktor penting. Kementerian/Lembaga, lembaga riset, industri pengolahan, asosiasi eksportir, serta pemangku kepentingan lainnya perlu membangun interoperabilitas data dan ekosistem yang mendukung hilirisasi. Kolaborasi diperlukan agar kebijakan tidak berjalan secara sektoral, melainkan terintegrasi dari hulu hingga hilir.

Dari sisi peningkatan daya saing, kajian merekomendasikan pengembangan produk pangan akuatik bernilai tambah serta penguatan akses pasar premium global. Pemanfaatan teknologi traceability, sertifikasi berkelanjutan, standardisasi produk, dan penguatan branding “Indonesian Blue Food” dipandang dapat meningkatkan daya saing produk Indonesia di pasar internasional.

Dalam jangka menengah dan panjang, JSN diarahkan untuk diperluas ke berbagai wilayah pengelolaan perikanan dan Unit Pengolahan Ikan. Sistem ini juga diharapkan terintegrasi dengan data perikanan nasional dan didukung oleh National Fisheries Command Center untuk mengolah data secara real-time sebagai dasar pengambilan keputusan strategis.

Pada akhirnya, optimalisasi pangan akuatik dipandang bukan sekadar agenda peningkatan produksi sektor kelautan dan perikanan. Upaya tersebut berkaitan langsung dengan pemenuhan pangan bergizi, penciptaan nilai ekonomi, peningkatan kesejahteraan masyarakat, penguatan kemandirian pangan, hingga perlindungan kedaulatan sumber daya maritim.

Melalui KKP ini, Stephen Christian Nusantara menegaskan pentingnya membangun ekosistem pangan akuatik yang efisien, resilien, mandiri, dan berkelanjutan. Optimalisasi produksi melalui peningkatan nilai, transformasi digital, hilirisasi, penguatan SDM, serta kolaborasi lintas sektor diharapkan mampu memperkuat ketahanan pangan nasional dan pada akhirnya bermuara pada semakin kokohnya ketahanan nasional Indonesia. (IP/BIA)

Scroll to Top