Indonesia memiliki potensi sumber daya kelautan dan perikanan yang sangat besar, namun pemanfaatannya masih menghadapi berbagai tantangan. Melalui Kertas Kerja Perorangan (KKP) Program Pendidikan Pemantapan Pimpinan Nasional (P3N) XXVI Lemhannas RI Tahun 2025, Stephen Christian Nusantara, B.Bus, M.A.A. mengangkat judul “Optimalisasi Produksi Pangan Akuatik Menuju Ketahanan Pangan Nasional” sebagai kajian strategis untuk mendorong penguatan ketahanan pangan sekaligus ketahanan nasional.
Dalam kajiannya, Stephen menyoroti besarnya potensi perikanan tangkap Indonesia yang mencapai sekitar 12,01 juta ton per tahun. Namun, potensi tersebut belum sepenuhnya dapat dikonversi menjadi produksi yang optimal karena realisasi produksi masih berada di sekitar 7,5 juta ton. Kondisi tersebut menunjukkan adanya kesenjangan antara potensi sumber daya dan kemampuan produksi nasional.
Persoalan tersebut tidak hanya berkaitan dengan jumlah produksi, tetapi juga dengan kemampuan menciptakan nilai tambah. Tingginya kehilangan pascapanen atau post-harvest loss yang berada pada kisaran 20–29 persen serta limbah Unit Pengolahan Ikan yang dapat mencapai 41 persen menjadi indikator masih adanya inefisiensi dalam rantai produksi pangan akuatik.
Salah satu persoalan penting yang dibahas adalah keterbatasan infrastruktur, khususnya sistem rantai dingin atau cold chain. Pemanfaatan cold storage yang masih rendah menyebabkan kualitas produk sulit dipertahankan secara optimal dari sentra produksi hingga konsumen. Kondisi geografis Indonesia sebagai negara kepulauan juga membuat konektivitas dan distribusi menjadi tantangan tersendiri.
Selain infrastruktur, teknologi dan permodalan menjadi faktor yang turut memengaruhi produktivitas. Investasi di sektor ini masih rendah, sementara sebagian pelaku usaha masih mengandalkan metode pengolahan tradisional. Keterbatasan tersebut membuat peluang pengembangan produk bernilai tambah tinggi belum dapat dimanfaatkan secara maksimal.
Aspek sumber daya manusia juga menjadi perhatian dalam KKP ini. Struktur tenaga kerja sektor perikanan yang cenderung menua dan keterampilan yang masih didominasi metode tradisional menjadi tantangan bagi proses modernisasi. Regenerasi pelaku usaha serta peningkatan kompetensi menjadi kebutuhan penting untuk mendukung penerapan teknologi dan hilirisasi.
