Stephen juga melihat bahwa permasalahan pangan akuatik memiliki keterkaitan erat dengan empat pilar ketahanan pangan, yaitu ketersediaan, akses, pemanfaatan, dan stabilitas. Kehilangan pascapanen dapat mengurangi ketersediaan pangan, sementara keterbatasan logistik dan rantai dingin menghambat akses masyarakat terhadap pangan akuatik yang berkualitas.
Dari sisi pemanfaatan, penurunan kualitas produk akibat penanganan yang belum optimal dapat memengaruhi nilai gizi pangan. Sementara itu, perubahan iklim, volatilitas harga input, ancaman Illegal, Unreported, and Unregulated Fishing (IUU Fishing), serta ketergantungan terhadap pasokan dari luar menjadi faktor yang dapat mengganggu stabilitas pangan nasional.
Untuk memahami persoalan tersebut secara menyeluruh, KKP menggunakan pendekatan Asta Gatra dan analisis SWOT yang kemudian dikembangkan melalui matriks TOWS. Pendekatan ini memungkinkan persoalan produksi pangan akuatik dilihat tidak hanya dari aspek ekonomi dan teknis, tetapi juga dari perspektif geografi, demografi, sumber kekayaan alam, politik, sosial budaya, serta pertahanan dan keamanan.
Kajian tersebut menempatkan konsep Ekonomi Biru sebagai salah satu landasan penting dalam optimalisasi pangan akuatik. Pendekatan ini mendorong pemanfaatan sumber daya laut secara inovatif dan berkelanjutan, termasuk mengubah limbah menjadi sumber nilai ekonomi baru. Dengan demikian, peningkatan produksi tidak semata-mata mengejar volume, tetapi juga memperhatikan efisiensi, keberlanjutan, dan nilai tambah.
Hasil analisis selanjutnya mendorong perubahan paradigma dari pendekatan yang bersifat parsial menuju strategi holistik berbasis ekosistem. Fokus utamanya adalah peningkatan nilai atau value enhancement yang mengintegrasikan peningkatan volume produksi, stabilitas pasokan, keberlanjutan sumber daya, serta kemandirian nasional.
Salah satu gagasan utama yang ditawarkan dalam KKP ini adalah pengembangan platform digital terintegrasi bernama Jala Samudera Nusantara (JSN). Platform tersebut dirancang sebagai sebuah “sistem operasi” nasional yang dapat mengorkestrasi rantai nilai perikanan tangkap melalui pemanfaatan data, blockchain, artificial intelligence (AI), dan Internet of Things (IoT).
Implementasi JSN diarahkan untuk mendukung keterlacakan produk, meningkatkan efisiensi perikanan, memperkuat sistem logistik, serta mengintegrasikan berbagai data yang dibutuhkan dalam pengambilan keputusan. Dalam tahap pengembangannya, JSN mencakup modul traceability berbasis blockchain, perikanan presisi berbasis AI, dan logistik cerdas yang memanfaatkan data IoT pada sistem cold chain.
