Mengoptimalkan Mineral Tanah Jarang untuk Masa Depan Hijau Indonesia

Kajian juga menggarisbawahi pentingnya pendekatan hexahelix yang melibatkan pemerintah, akademisi, dunia usaha, masyarakat, media, dan lembaga keuangan. Sinergi enam unsur tersebut dinilai menjadi kunci dalam membangun ekosistem industri MTJ yang kuat dan berkelanjutan.

Pemerintah memiliki peran sentral dalam menyiapkan regulasi, insentif investasi, dan kebijakan hilirisasi yang mendukung pengembangan industri. Sementara itu, perguruan tinggi dan lembaga penelitian diharapkan mampu menghasilkan inovasi teknologi yang dapat mempercepat penguasaan proses pemurnian dan pengolahan MTJ di dalam negeri.

Dunia usaha memiliki tanggung jawab untuk melakukan investasi pada fasilitas pengolahan dan pemurnian, sekaligus membangun industri hilir yang mampu menyerap produk-produk hasil pengolahan MTJ. Kehadiran industri yang kuat akan mempercepat terbentuknya rantai nilai nasional yang memberikan manfaat ekonomi lebih besar bagi bangsa.

Menurut Herman Widjojo, keberhasilan optimalisasi MTJ tidak hanya akan memperkuat transformasi ekonomi hijau, tetapi juga meningkatkan posisi strategis Indonesia dalam geopolitik global. Penguasaan sumber daya dan teknologi MTJ dapat menjadi instrumen penting dalam memperkuat daya saing nasional sekaligus meningkatkan ketahanan ekonomi di tengah dinamika dunia yang semakin kompleks.

Melalui KKP ini, penulis menegaskan bahwa Indonesia memiliki peluang besar untuk bertransformasi dari negara pemasok bahan mentah menjadi negara industri berbasis teknologi tinggi. Dengan penguatan regulasi, penguasaan teknologi, pembangunan SDM unggul, serta kolaborasi seluruh pemangku kepentingan, Mineral Tanah Jarang dapat menjadi motor penggerak ekonomi hijau yang berkelanjutan dan fondasi penting bagi terwujudnya ketahanan ekonomi nasional menuju Indonesia Emas 2045. (IP/BIA)

Scroll to Top