Brigadir Jenderal TNI Iwan Rosandriyanto, S.I.P., M.Han., peserta Pendidikan Pemantapan Pimpinan Nasional (P3N) XXVI Lemhannas RI Tahun 2025, menyusun Kertas Kerja Perorangan (KKP) berjudul “Kolaborasi Multi Stakeholders Kemandirian Pangan dalam Rangka Ketahanan Nasional” sebagai kontribusi pemikiran strategis terhadap upaya memperkuat ketahanan nasional melalui pembangunan sistem pangan yang mandiri, tangguh, dan berkelanjutan. Kajian ini menempatkan kolaborasi lintas pemangku kepentingan sebagai kunci utama dalam mewujudkan kemandirian pangan di tengah berbagai tantangan global maupun nasional.
Ketahanan pangan merupakan salah satu fondasi utama ketahanan nasional karena berkaitan langsung dengan kemampuan negara menjamin ketersediaan, keterjangkauan, serta keberlanjutan pangan bagi seluruh masyarakat. Dalam kondisi dunia yang diwarnai perubahan iklim, dinamika geopolitik, hingga gangguan rantai pasok global, Indonesia dituntut memiliki sistem pangan yang mampu bertahan terhadap berbagai tekanan sehingga tidak bergantung pada pasokan dari luar negeri.
Melalui KKP ini dijelaskan bahwa upaya membangun kemandirian pangan tidak cukup hanya mengandalkan peningkatan produksi pertanian. Diperlukan tata kelola yang mampu menyatukan berbagai aktor mulai dari pemerintah pusat, pemerintah daerah, dunia usaha, akademisi, lembaga penelitian, organisasi masyarakat, hingga para petani sebagai pelaku utama di lapangan. Sinergi tersebut akan menciptakan kebijakan yang lebih efektif sekaligus memperkuat implementasi di tingkat daerah.
Kajian ini menggunakan Provinsi Kalimantan Tengah sebagai salah satu contoh strategis dalam pengembangan kemandirian pangan nasional. Wilayah tersebut memiliki potensi lahan yang sangat luas, termasuk kawasan rawa yang dapat dikembangkan menjadi sentra produksi pangan apabila didukung oleh infrastruktur, teknologi, kelembagaan, serta pengelolaan lingkungan yang berkelanjutan.
Meskipun memiliki potensi besar, pengembangan kawasan pangan masih menghadapi berbagai tantangan. Infrastruktur pertanian yang belum merata, keterbatasan irigasi, rendahnya pemanfaatan teknologi modern, serta distribusi sarana produksi yang belum optimal menjadi faktor yang memengaruhi produktivitas pertanian di berbagai daerah.
