KKP ini juga menyoroti meningkatnya risiko yang dihadapi anak-anak di ruang digital, mulai dari cyberbullying, penyebaran hoaks, konten kekerasan, hingga eksploitasi daring. Berbagai ancaman tersebut menunjukkan bahwa pendidikan karakter tidak lagi cukup dilakukan secara konvensional, melainkan harus disertai dengan peningkatan literasi digital yang kuat baik bagi anak maupun orang tua.
Dalam menghadapi tantangan tersebut, perempuan dituntut memiliki kemampuan adaptif terhadap perkembangan teknologi. Literasi digital menjadi kompetensi penting yang harus dimiliki agar perempuan mampu mendampingi, mengawasi, sekaligus memberikan edukasi kepada anak terkait penggunaan teknologi secara sehat, aman, dan bertanggung jawab.
Kajian ini menempatkan Kongres Wanita Indonesia (KOWANI) sebagai salah satu organisasi perempuan yang memiliki peran strategis dalam memperkuat kapasitas perempuan Indonesia. Dengan jaringan organisasi yang luas dan pengalaman panjang dalam pemberdayaan perempuan, KOWANI dinilai memiliki potensi besar untuk menjadi motor penggerak pembentukan karakter anak berbasis keluarga di era digital.
Selama ini KOWANI telah melaksanakan berbagai program yang mendukung peningkatan kapasitas perempuan, mulai dari literasi digital, pemberdayaan ekonomi, pendidikan keluarga, hingga perlindungan anak. Berbagai kegiatan tersebut menunjukkan komitmen organisasi dalam meningkatkan kualitas perempuan sebagai agen perubahan sosial di tengah masyarakat.
Meski demikian, kajian menemukan bahwa program-program yang berkaitan langsung dengan pembentukan karakter anak di era digital masih perlu diperkuat dan diintegrasikan secara lebih sistematis. Upaya yang dilakukan saat ini masih cenderung bersifat sektoral sehingga belum membentuk ekosistem nasional yang mampu menghubungkan keluarga, sekolah, dan masyarakat dalam satu kerangka pembinaan karakter yang berkelanjutan.
Tantangan lain yang dihadapi adalah masih adanya kesenjangan akses literasi digital, terutama bagi perempuan di wilayah terpencil dan daerah tertinggal. Kondisi tersebut menyebabkan tidak semua perempuan memiliki kesempatan yang sama untuk memperoleh pengetahuan dan keterampilan yang diperlukan dalam mendampingi anak menghadapi tantangan dunia digital.
