Menguatkan Ketahanan Nasional dari Pesisir Timur: Optimalisasi Perikanan Tangkap untuk Kesejahteraan Masyarakat Papua

Kekayaan sumber daya laut Indonesia merupakan salah satu modal strategis bangsa dalam mewujudkan kesejahteraan rakyat sekaligus memperkuat ketahanan nasional. Dalam konteks tersebut, peserta Pendidikan Pemantapan Pimpinan Nasional (P3N) XXVI Lemhannas RI, Freddy Jhon H. Pardosi, S.E., S.H., M.M., menyusun Kertas Kerja Perorangan (KKP) berjudul “Optimalisasi Pengelolaan Perikanan Tangkap Guna Kesejahteraan Masyarakat Pesisir dalam Rangka Ketahanan Nasional” yang mengkaji berbagai tantangan dan langkah strategis pengelolaan sektor perikanan tangkap, khususnya di Provinsi Papua.

Kajian ini berangkat dari kenyataan bahwa Indonesia sebagai negara kepulauan terbesar di dunia memiliki sumber daya kelautan yang sangat melimpah dan berperan penting dalam mendukung pertumbuhan ekonomi, ketahanan pangan, pemerataan kesejahteraan, serta penguatan ketahanan nasional. Namun demikian, potensi tersebut belum sepenuhnya mampu memberikan manfaat optimal bagi masyarakat pesisir akibat berbagai tantangan yang masih dihadapi.

Papua menjadi fokus kajian karena wilayah ini memiliki potensi maritim yang sangat besar dengan kekayaan sumber daya ikan yang melimpah serta keanekaragaman hayati laut yang tinggi. Potensi lestari perikanan laut Papua diperkirakan mencapai lebih dari 1,5 juta ton per tahun, menjadikannya salah satu kawasan strategis bagi pengembangan ekonomi maritim nasional dan penguatan ketahanan pangan Indonesia.

Meskipun memiliki sumber daya yang melimpah, kesejahteraan masyarakat pesisir Papua belum mengalami peningkatan yang signifikan. Potensi besar tersebut belum sepenuhnya terkonversi menjadi manfaat ekonomi yang dirasakan langsung oleh nelayan dan masyarakat pesisir akibat berbagai kendala struktural maupun operasional dalam tata kelola sektor perikanan tangkap.

Salah satu persoalan utama yang diidentifikasi dalam KKP ini adalah keterbatasan infrastruktur perikanan. Fasilitas pelabuhan, rantai dingin, penyimpanan hasil tangkap, hingga sarana distribusi masih belum memadai untuk mendukung pengelolaan hasil perikanan secara optimal. Akibatnya, kualitas hasil tangkap sering mengalami penurunan dan peluang peningkatan nilai tambah belum dapat dimanfaatkan secara maksimal.

Selain itu, sebagian besar nelayan Papua masih beroperasi menggunakan armada kecil dengan teknologi sederhana. Kondisi tersebut menyebabkan jangkauan penangkapan terbatas, produktivitas rendah, serta tingginya ketergantungan terhadap kondisi cuaca. Keterbatasan akses terhadap pembiayaan dan teknologi juga memperlemah daya saing nelayan dalam rantai nilai industri perikanan.

Scroll to Top