Penguatan Literasi Digital Guru dan Siswa: Investasi Strategis Mewujudkan Generasi Unggul dan Ketahanan Nasional

Literasi digital telah menjadi salah satu kompetensi utama yang menentukan kualitas sumber daya manusia di era transformasi digital. Dalam Kertas Kerja Perorangan (KKP) berjudul “Penguatan Literasi Digital Guru dan Siswa Guna Menciptakan Generasi Unggul Dalam Rangka Ketahanan Nasional”, peserta P3N XXVI Lemhannas RI Tahun 2025, Prof. Eva Leiliyanti, S.S., M.Hum., Ph.D., mengangkat urgensi penguatan literasi digital sebagai langkah strategis dalam membangun generasi unggul yang mampu menghadapi tantangan global sekaligus memperkuat ketahanan nasional.

Kajian ini berangkat dari fenomena paradoks digital yang tengah dihadapi Indonesia. Di satu sisi, tingkat penetrasi internet nasional terus meningkat dan menjangkau sebagian besar masyarakat. Namun di sisi lain, peningkatan akses tersebut belum diimbangi oleh kemampuan literasi digital yang memadai, sehingga menimbulkan berbagai kerentanan sosial, budaya, dan ideologis yang berpotensi mengganggu ketahanan nasional.

Rendahnya literasi digital tidak hanya berkaitan dengan kemampuan menggunakan teknologi, tetapi juga menyangkut kemampuan berpikir kritis, memahami etika digital, menjaga keamanan siber, serta membangun budaya digital yang sehat. Ketidakmampuan memanfaatkan teknologi secara bijak menyebabkan masyarakat rentan terhadap hoaks, disinformasi, ujaran kebencian, hingga berbagai bentuk manipulasi informasi yang berkembang di ruang digital.

Dalam perspektif ketahanan nasional, kondisi tersebut memiliki implikasi yang luas. Lemahnya literasi digital dapat mengancam ketahanan ideologi melalui penyebaran paham radikal, mengganggu kohesi sosial akibat polarisasi informasi, serta menurunkan kualitas sumber daya manusia yang menjadi modal utama pembangunan bangsa. Oleh karena itu, penguatan literasi digital harus dipandang sebagai bagian integral dari pembangunan nasional.

KKP ini menyoroti peran strategis guru sebagai critical leverage point dalam transformasi pendidikan digital. Guru memiliki posisi yang sangat menentukan karena menjadi aktor utama dalam membentuk pola pikir, karakter, serta kemampuan siswa dalam memanfaatkan teknologi secara produktif, kreatif, dan bertanggung jawab.

Namun demikian, kondisi literasi digital guru masih menghadapi berbagai tantangan. Sebagian besar guru masih berada pada tahap penggunaan teknologi sebagai alat bantu pembelajaran dan belum sepenuhnya mampu mengintegrasikan pendekatan literasi kritis ke dalam proses pendidikan. Keterbatasan pelatihan berkelanjutan serta tingginya beban administratif menjadi faktor yang menghambat peningkatan kapasitas tersebut.

Scroll to Top