Perpustakaan sebagai pusat pengetahuan dan literasi strategis terus mendukung diseminasi berbagai karya ilmiah yang dihasilkan peserta pendidikan kepemimpinan nasional. Salah satu karya yang memberikan kontribusi penting terhadap pembangunan sumber daya manusia Indonesia adalah Kertas Kerja Perorangan (KKP) berjudul “Penguatan Peran Perempuan Guna Pembentukan Karakter Anak di Era Digital dalam Rangka Ketahanan Nasional” yang disusun oleh Dwi Arsawidanti, S.Kom., M.Si., peserta Pendidikan Pemantapan Pimpinan Tingkat Nasional (P3N) XXVI Lemhannas RI Tahun 2025. Karya ini mengangkat pentingnya peran perempuan sebagai aktor utama dalam membangun karakter generasi penerus bangsa di tengah derasnya arus transformasi digital.
Perkembangan teknologi informasi dan komunikasi telah menghadirkan berbagai kemudahan dalam kehidupan masyarakat. Namun di sisi lain, kemajuan teknologi juga membawa tantangan baru yang berdampak pada pola pikir, perilaku, dan karakter generasi muda. Akses informasi yang semakin terbuka memungkinkan anak-anak memperoleh berbagai pengetahuan secara cepat, tetapi juga membuka peluang masuknya konten negatif yang dapat memengaruhi perkembangan moral dan sosial mereka.
Dalam konteks tersebut, keluarga menjadi benteng pertama dalam membentuk karakter anak. Perempuan, khususnya ibu, memiliki posisi yang sangat strategis sebagai pendidik pertama dan utama dalam lingkungan keluarga. Melalui interaksi sehari-hari, keteladanan, serta pola asuh yang diterapkan, seorang ibu berperan besar dalam menanamkan nilai-nilai moral, etika, disiplin, dan tanggung jawab kepada anak sejak usia dini.
Kajian ini menegaskan bahwa pembentukan karakter tidak dapat dilepaskan dari kualitas hubungan emosional antara orang tua dan anak. Teori attachment yang dikembangkan oleh John Bowlby menunjukkan bahwa kedekatan emosional yang kuat antara anak dan pengasuh utamanya akan membentuk rasa aman, kepercayaan diri, serta kemampuan anak dalam berinteraksi secara sosial. Oleh karena itu, penguatan kapasitas perempuan dalam menjalankan fungsi pengasuhan menjadi sangat penting di era digital.
Perubahan sosial yang terjadi akibat digitalisasi turut mengubah pola interaksi dalam keluarga. Kehadiran gawai, media sosial, dan berbagai platform digital membuat anak-anak semakin banyak menghabiskan waktu di dunia maya. Kondisi ini berpotensi mengurangi interaksi langsung dengan keluarga dan lingkungan sosial sehingga dapat memengaruhi proses pembentukan karakter jika tidak diimbangi dengan pendampingan yang memadai.
