Di sisi lain, pemerintah daerah perlu diberi ruang inovasi untuk mengembangkan kurikulum berbasis kearifan lokal. Pendidikan karakter yang kontekstual dengan budaya setempat akan lebih mudah diterima dan diinternalisasi oleh peserta didik.
Mahfud Ghozali juga menawarkan model pembelajaran berbasis partisipasi aktif, kolaborasi sosial, dan pendampingan bertahap sebagai solusi atas kesenjangan mutu pendidikan. Pendekatan ini sejalan dengan teori konstruktivisme yang menekankan pembelajaran sebagai proses aktif membangun makna.
Secara strategis, penguatan SDM unggul melalui pendidikan karakter dan soft skill akan berdampak langsung terhadap peningkatan Indeks Pembangunan Manusia. Peningkatan kualitas manusia yang merata di seluruh wilayah menjadi prasyarat terciptanya pembangunan yang berkeadilan.
Kesimpulan dari KKP ini menegaskan bahwa keberhasilan mewujudkan Indonesia Emas 2045 sangat ditentukan oleh keberhasilan membangun Generasi Alpha yang berkarakter, adaptif, dan kompetitif. Ketahanan nasional di masa depan akan bertumpu pada kualitas moral dan kapasitas kepemimpinan generasi penerus bangsa.
Sebagai kontribusi pemikiran strategis dalam Program P3N XXV Lembaga Ketahanan Nasional Republik Indonesia, karya ini diharapkan menjadi referensi akademik sekaligus inspirasi kebijakan dalam memperkuat fondasi pembangunan manusia Indonesia secara menyeluruh, demi terwujudnya bangsa yang tangguh, berdaulat, dan bermartabat pada tahun 2045. (IP/GT)
