Akselerasi Kedaulatan Pangan Kelautan sebagai Pilar Kemandirian Ekonomi dan Ketahanan Nasional

KKP ini juga menyajikan perbandingan dengan Vietnam dan Thailand yang dinilai lebih progresif dalam pengembangan industri perikanan terpadu. Kedua negara tersebut berhasil mengintegrasikan sistem budidaya, pengolahan, sertifikasi ekspor, serta pengawasan digital secara konsisten. Indonesia dinilai perlu belajar dari praktik terbaik tersebut dengan tetap menyesuaikan pada karakteristik geografis dan sosial nasional.

Dalam perspektif teori kebijakan publik, penulis menyoroti pentingnya tahapan evaluasi dan pengendalian implementasi. Kebijakan yang baik harus disertai indikator kinerja yang terukur, mekanisme pengawasan yang kuat, serta dukungan politik yang berkelanjutan. Tanpa perencanaan implementasi yang matang, kebijakan berisiko menjadi normatif tanpa dampak nyata di lapangan.

Dari sudut pandang ketahanan nasional, kedaulatan pangan kelautan memiliki keterkaitan erat dengan pendekatan Astagatra yang menjadi konsepsi dasar di Lembaga Ketahanan Nasional Republik Indonesia. Pada aspek Trigatra, pengelolaan sumber daya laut memperkuat dimensi geografi, demografi, dan kekayaan alam. Sementara pada Pancagatra, sektor ini berkontribusi terhadap penguatan ideologi, politik, ekonomi, sosial budaya, serta pertahanan keamanan.

Secara ekonomi, percepatan hilirisasi produk kelautan diyakini mampu menciptakan efek berganda berupa peningkatan lapangan kerja, pertumbuhan industri pengolahan, serta penguatan ekspor berbasis nilai tambah. Kemandirian ekonomi hanya dapat tercapai apabila hasil laut tidak lagi dijual sebagai komoditas mentah, melainkan sebagai produk olahan berdaya saing tinggi.

Dalam konteks geopolitik, penguasaan sumber pangan laut memperkuat posisi tawar Indonesia di tingkat regional dan global. Ketahanan pangan berbasis kelautan mengurangi ketergantungan terhadap impor protein hewani, sekaligus memperkuat diplomasi maritim Indonesia dalam menghadapi dinamika krisis pangan dan perubahan iklim.

Penulis juga menekankan pentingnya pendekatan kolaboratif berbasis model pentahelix yang melibatkan akademisi, pelaku usaha, komunitas, pemerintah, dan media. Sinergi kelima unsur tersebut menjadi kunci untuk menjembatani kesenjangan antara potensi dan kapasitas pengelolaan. Akademisi berperan dalam inovasi teknologi, dunia usaha dalam hilirisasi, komunitas sebagai pelaku utama, pemerintah sebagai regulator, dan media sebagai penguat literasi publik.

Scroll to Top