Kajian Farhan Isma Putra juga menawarkan analisis SWOT dan TOWS untuk memetakan kekuatan, kelemahan, peluang, dan tantangan dalam rantai pasok pangan nasional. Pendekatan ini menghasilkan rekomendasi strategis yang mencakup penguatan kelembagaan, peningkatan kapasitas petani, modernisasi logistik, dan percepatan digitalisasi sektor pangan.
Lebih lanjut, kertas kerja tersebut menyoroti pentingnya kepemimpinan nasional yang mampu mengorkestrasi kolaborasi lintas sektor. Pemimpin strategis harus mampu menyatukan visi pembangunan pangan yang inklusif dan berkelanjutan agar seluruh pemangku kepentingan bergerak dalam satu arah kebijakan.
Kajian ini juga mengingatkan bahwa keberhasilan kedaulatan pangan tidak dapat dicapai secara instan. Diperlukan konsistensi kebijakan, investasi jangka panjang, serta penguatan budaya konsumsi pangan lokal di masyarakat untuk menciptakan sistem pangan yang kuat dan mandiri.
Melalui pendekatan empiris dan komprehensif, penulis menunjukkan bahwa transformasi rantai pasok pangan nasional bukan hanya pilihan, melainkan kebutuhan strategis bangsa. Tanpa sistem pangan yang tangguh, stabilitas nasional akan mudah terganggu oleh dinamika global yang semakin tidak terprediksi.
Kertas Kerja Perorangan ini diharapkan menjadi referensi penting bagi pembuat kebijakan, akademisi, dan masyarakat dalam merumuskan strategi ketahanan pangan nasional. Kajian tersebut menegaskan bahwa penguatan rantai pasok pangan merupakan investasi masa depan bagi kesejahteraan rakyat dan kedaulatan bangsa.
Sebagai kontribusi pemikiran dari peserta P3N di Lembaga Ketahanan Nasional Republik Indonesia, karya Farhan Isma Putra menjadi pengingat bahwa ketahanan pangan adalah fondasi utama ketahanan nasional. Dengan komitmen bersama antara negara, masyarakat, dan dunia usaha, Indonesia diharapkan mampu mewujudkan kedaulatan pangan yang berkelanjutan menuju Indonesia Emas 2045. (AT/BIA)
