Perpustakaan sebagai pusat diseminasi pengetahuan strategis kembali menghadirkan ulasan substantif dari Kertas Kerja Perorangan (KKP) karya Marsekal Pertama TNI Feri Yunaldi, S.E., M.Han. berjudul Percepatan Diversifikasi Energi Baru Terbarukan Guna Mendukung Kemandirian Ekonomi Dalam Rangka Ketahanan Nasional, yang disusun dalam rangka Pendidikan Pemantapan Pimpinan Nasional (P3N) XXV Lemhannas RI Tahun 2025, sebagai kontribusi pemikiran kebijakan strategis bagi masa depan bangsa.
Karya ini berangkat dari kesadaran bahwa ketahanan nasional tidak lagi dapat dilepaskan dari isu energi, khususnya di tengah dinamika global yang ditandai krisis energi, ketegangan geopolitik, dan tuntutan transisi menuju ekonomi rendah karbon. Energi tidak hanya menjadi faktor produksi, tetapi juga instrumen strategis dalam menjaga kedaulatan dan stabilitas nasional.
Dalam konteks global, dunia sedang menghadapi krisis energi yang bersifat multidimensional dan lintas kawasan. Lonjakan harga energi, gangguan rantai pasok, serta konflik geopolitik telah membuka mata banyak negara akan pentingnya membangun sistem energi yang tangguh, mandiri, dan berkelanjutan melalui diversifikasi sumber energi.
Indonesia sebagai negara berkembang dengan kebutuhan energi yang terus meningkat berada pada posisi strategis sekaligus rentan. Ketergantungan yang tinggi terhadap energi fosil, khususnya batubara dan impor bahan bakar, menimbulkan risiko ekonomi dan politik yang dapat melemahkan ketahanan nasional apabila tidak diantisipasi dengan kebijakan yang tepat.
Melalui pendekatan ketahanan nasional berbasis Asta Gatra, KKP ini menempatkan energi baru terbarukan sebagai pengungkit utama dalam memperkuat gatra ekonomi, politik, pertahanan dan keamanan, serta sumber daya alam. Energi bersih dipandang bukan semata isu lingkungan, tetapi fondasi strategis pembangunan nasional jangka panjang.
Indonesia sejatinya dianugerahi potensi energi baru terbarukan yang sangat besar, terutama energi surya. Letak geografis di garis khatulistiwa menjadikan intensitas radiasi matahari relatif stabil sepanjang tahun, dengan potensi teknis yang jauh melampaui kapasitas terpasang saat ini.
Namun demikian, pemanfaatan energi surya nasional masih sangat rendah jika dibandingkan dengan potensi yang dimiliki. Kesenjangan antara potensi dan realisasi ini menjadi salah satu fokus utama analisis dalam KKP, yang menyoroti perlunya percepatan kebijakan dan implementasi secara sistematis.
