Perkembangan geopolitik global yang semakin dinamis mendorong lahirnya berbagai gagasan strategis dari para pemimpin nasional, termasuk Dr. H. Dedi Supandi, S.STP, M.Si., peserta Pendidikan Pemantapan Pimpinan Nasional (P3N) XXV di Lembaga Ketahanan Nasional Republik Indonesia, melalui Kertas Kerja Perorangan berjudul “Akselerasi Reposisi Kepentingan Nasional Pasca Keanggotaan BRICS Guna Mendukung Politik Luar Negeri Dalam Rangka Ketahanan Nasional.” Karya ini menyoroti momentum penting ketika Indonesia resmi bergabung dalam BRICS pada Januari 2025 sebagai bagian dari langkah strategis memperkuat posisi global dan ketahanan nasional di tengah perubahan tatanan dunia multipolar.
Keanggotaan Indonesia dalam BRICS menandai babak baru dalam perjalanan diplomasi nasional, terutama dalam memperluas jejaring kerja sama dengan negara-negara berkembang yang memiliki pengaruh signifikan dalam perekonomian global. Keputusan ini tidak hanya bersifat simbolis, tetapi juga mencerminkan upaya nyata Indonesia untuk meningkatkan daya tawar dalam forum internasional serta memperluas akses terhadap sumber daya, teknologi, dan investasi strategis yang dapat mendukung pembangunan nasional secara berkelanjutan.
Dalam perspektif ketahanan nasional, keikutsertaan Indonesia dalam BRICS dipandang sebagai peluang untuk memperkuat fondasi ekonomi, politik, dan diplomasi. BRICS sebagai aliansi negara berkembang menghadirkan alternatif kerja sama global yang lebih inklusif, sekaligus membuka ruang bagi Indonesia untuk berkontribusi dalam pembentukan tatanan dunia yang lebih adil dan seimbang. Hal ini selaras dengan prinsip politik luar negeri bebas aktif yang selama ini menjadi landasan utama diplomasi Indonesia dalam menjaga kedaulatan dan kepentingan nasional.
Salah satu peluang strategis yang diidentifikasi dalam kajian ini adalah akses terhadap pembiayaan pembangunan melalui New Development Bank, lembaga keuangan yang didirikan oleh negara-negara anggota BRICS. Dukungan pembiayaan tersebut berpotensi mempercepat pembangunan infrastruktur, memperkuat sektor industri nasional, serta meningkatkan konektivitas ekonomi yang menjadi prasyarat penting dalam meningkatkan daya saing nasional di tingkat global.
Namun demikian, keanggotaan dalam BRICS juga menghadirkan tantangan yang memerlukan perhatian serius. Salah satu tantangan utama adalah risiko ketergantungan ekonomi dan teknologi terhadap negara-negara dengan kekuatan ekonomi yang lebih dominan. Tanpa strategi nasional yang matang, ketergantungan tersebut dapat memengaruhi kemandirian ekonomi dan melemahkan posisi strategis Indonesia dalam jangka panjang. Oleh karena itu, diperlukan kebijakan yang mampu memastikan bahwa setiap kerja sama internasional tetap berpihak pada kepentingan nasional.
