Sebagai bagian dari tugas akademik dalam Pendidikan Penyiapan dan Pemantapan Pimpinan Nasional (P4N) LXVIII Lemhannas RI Tahun 2025, Kolonel Inf Ruddy Hermawan, S.H., S.I.P. menyusun Kertas Karya Ilmiah Perseorangan (Taskap) berjudul “Difusi Inovasi Teknologi Pertanian Guna Mendukung Ketahanan Pangan.” Karya ini menjadi refleksi strategis atas tantangan dan peluang pembangunan pertanian nasional di tengah dinamika global, sekaligus menawarkan pendekatan kebijakan yang relevan untuk memperkuat ketahanan pangan Indonesia secara berkelanjutan.
Ketahanan pangan merupakan isu fundamental dalam pembangunan nasional karena berkaitan langsung dengan stabilitas sosial, ekonomi, dan politik negara. Indonesia sebagai negara agraris dengan jumlah penduduk besar dihadapkan pada tantangan penyediaan pangan yang tidak ringan, mulai dari perubahan iklim, tekanan demografis, keterbatasan lahan, hingga ketimpangan akses teknologi di tingkat petani. Dalam konteks inilah, Taskap ini menempatkan inovasi teknologi pertanian sebagai instrumen strategis yang harus didorong melalui mekanisme difusi yang efektif.
Difusi inovasi teknologi pertanian dipahami sebagai proses penyebaran dan penerimaan teknologi baru oleh petani dan komunitas pertanian melalui tahapan kesadaran, ketertarikan, uji coba, hingga adopsi. Proses ini tidak hanya bergantung pada kecanggihan teknologi, tetapi juga sangat dipengaruhi oleh faktor sosial, ekonomi, budaya, serta dukungan kebijakan pemerintah. Tanpa strategi difusi yang tepat, inovasi berpotensi berhenti pada tahap demonstrasi dan tidak memberikan dampak nyata bagi peningkatan produksi pangan.
Dalam kajiannya, Ruddy Hermawan menegaskan bahwa Indonesia sebenarnya telah memiliki beragam inovasi teknologi pertanian, baik berupa mekanisasi, pertanian presisi, digitalisasi pertanian, maupun penggunaan varietas unggul. Namun, tingkat pemanfaatan teknologi tersebut masih belum optimal, terutama di kalangan petani kecil dan petani lanjut usia yang mendominasi struktur tenaga kerja pertanian nasional. Kesenjangan inilah yang menjadi salah satu hambatan utama dalam peningkatan produktivitas.
Taskap ini juga menyoroti tantangan serius terkait regenerasi sumber daya manusia pertanian. Data menunjukkan bahwa proporsi petani muda yang adaptif terhadap teknologi digital masih relatif kecil dibandingkan petani berusia lanjut. Kondisi ini berpotensi menghambat proses adopsi inovasi, mengingat teknologi pertanian modern menuntut keterampilan, literasi digital, serta pola pikir yang terbuka terhadap perubahan.
