Marsekal Pertama TNI Ridha Hermawan, S.H., M.Han, peserta Pendidikan Penyiapan dan Pemantapan Pimpinan Nasional (P4N) LXVIII Tahun 2025, telah menyusun Kertas Karya Ilmiah Perseorangan (Taskap) berjudul “Pengembangan Perang Asimetris Udara Guna Mendukung Perang Gerilya dalam Rangka Ketahanan Nasional”, sebagai kontribusi pemikiran strategis terhadap penguatan sistem pertahanan Indonesia di tengah dinamika ancaman global dan regional yang semakin kompleks.
Ketahanan nasional dalam konteks kekinian tidak lagi dimaknai secara statis, melainkan sebagai kondisi dinamis yang menuntut kemampuan bangsa untuk beradaptasi, bertahan, dan pulih dari berbagai bentuk ancaman. Perubahan karakter perang modern, yang semakin mengandalkan teknologi tinggi dan pendekatan non-konvensional, menuntut adanya pembaruan strategi pertahanan agar negara tetap mampu menjaga kedaulatan dan keutuhan wilayahnya.
Lingkungan strategis global menunjukkan pergeseran pola konflik dari perang konvensional menuju konflik asimetris, hibrida, dan multidomain. Pemanfaatan teknologi seperti pesawat tanpa awak, sistem persenjataan presisi, peperangan siber, dan operasi informasi memungkinkan pihak dengan sumber daya terbatas untuk menantang kekuatan militer yang lebih unggul. Fenomena ini menjadikan perang asimetris sebagai alternatif strategis yang relevan bagi banyak negara.
Kawasan Indo-Pasifik, khususnya Laut China Selatan dan isu Taiwan, menjadi contoh nyata meningkatnya ketegangan geopolitik yang berpotensi berdampak langsung terhadap stabilitas kawasan. Rivalitas kekuatan besar, pembentukan aliansi militer, serta peningkatan aktivitas militer di wilayah tersebut menuntut Indonesia untuk memiliki kesiapsiagaan pertahanan yang adaptif dan berlapis, sesuai dengan posisi strategisnya sebagai negara kepulauan.
Dalam konteks tersebut, Sistem Pertahanan dan Keamanan Rakyat Semesta tetap menjadi fondasi utama pertahanan negara. Namun, sistem ini perlu ditransformasikan agar mampu menjawab tantangan kontemporer. Pengembangan perang asimetris udara dipandang sebagai bentuk modernisasi Sishankamrata yang mengintegrasikan teknologi, sumber daya manusia, dan potensi nasional dalam satu kerangka pertahanan yang efektif.
Perang asimetris udara menitikberatkan pada pemanfaatan teknologi udara yang relatif murah, fleksibel, dan sulit dideteksi, seperti Unmanned Aerial Vehicle dan drone taktis. Strategi ini tidak dimaksudkan untuk menggantikan kekuatan konvensional, melainkan sebagai pelengkap yang memperkuat daya tangkal nasional, terutama dalam situasi ketidakseimbangan kekuatan.
