Transformasi Pertanian Nasional Melalui Teknologi Digital, Meneguhkan Ketahanan Pangan Indonesia

Indonesia terus menghadapi tantangan besar dalam membangun sektor pertanian yang tangguh, efisien, dan adaptif terhadap perubahan zaman. Melalui Taskap berjudul “Pemanfaatan Teknologi Digital dalam Tata Kelola Pertanian Guna Ketahanan Pangan Nasional”, peserta Pendidikan Penyiapan dan Pemantapan Pimpinan Nasional (P4N) LXVIII Lemhannas RI Tahun 2025, Nabil Djaidi, S.E., M.M., menghadirkan kajian komprehensif mengenai bagaimana digitalisasi menjadi jalan strategis dalam memastikan pangan Indonesia tetap stabil, berkelanjutan, dan berdaya saing tinggi.

Dalam penelitiannya, Nabil Djaidi menekankan bahwa sektor pertanian Indonesia berada pada situasi yang menantang akibat perubahan iklim, ketidakstabilan produksi, penuaan petani, serta rendahnya integrasi informasi lintas lembaga. Kondisi tersebut menimbulkan risiko serius terhadap ketersediaan, akses, stabilitas, dan kualitas pangan—empat dimensi ketahanan pangan yang ditetapkan FAO dan menjadi standar global.

Selain faktor iklim, kajian ini juga menyoroti persoalan fluktuasi produksi yang sangat mempengaruhi pasokan dan harga komoditas strategis. Fenomena panen raya yang sering berujung pada anjloknya harga, serta musim paceklik yang mendorong kenaikan harga, menunjukkan urgensi pembenahan tata kelola pertanian dari hulu hingga hilir.

Ketidakmerataan infrastruktur logistik dan informasi pasar menjadi hambatan besar lainnya. Banyak daerah penghasil pertanian mengalami kesenjangan akses data dan sarana transportasi, sehingga rantai pasok tidak efisien dan nilai tambah justru lebih banyak dinikmati oleh pihak di luar petani. Taskap ini mengungkap pentingnya perbaikan sistem distribusi melalui inovasi teknologi dan kolaborasi kelembagaan.

Dari sisi sumber daya manusia, keterbatasan kapasitas petani dalam manajemen usaha tani, literasi teknologi, serta akses pembiayaan juga menjadi tantangan serius. Rendahnya kualitas data dan minimnya dokumentasi aktivitas pertanian memperburuk situasi karena menghambat penerapan kebijakan berbasis bukti (evidence-based policy).

Dalam kajiannya, Nabil Djaidi juga menyoroti kondisi ketahanan pangan Indonesia secara makro. Penurunan produktivitas beras di beberapa periode, tingginya impor komoditas seperti kedelai dan bawang putih, serta potensi kenaikan kebutuhan pangan akibat pertumbuhan penduduk menunjukkan bahwa transformasi pertanian bukan lagi pilihan, melainkan keharusan.

Scroll to Top