Dr. Rabiatul Adawiyah Hamid, M.Pd., peserta P3N XXVI Lemhannas RI Tahun 2025, melalui KKP berjudul “Kepemimpinan Transformasional Guna Membentuk Karakter Generasi Muda Unggul dalam Rangka Ketahanan Nasional”, mengkaji kepemimpinan transformasional sebagai strategi pembentukan karakter generasi muda menghadapi globalisasi, disrupsi teknologi, hoaks, degradasi moral, dan krisis identitas.
Pembentukan karakter generasi muda dipandang sebagai persoalan strategis Ketahanan Nasional. Generasi yang berintegritas, tangguh, nasionalis, adaptif, dan berdaya saing menjadi kekuatan pembangunan, sedangkan bonus demografi dapat menjadi tantangan apabila tidak diikuti peningkatan kualitas sumber daya manusia.
Perubahan lingkungan strategis global dan regional menghadirkan peluang sekaligus ancaman. Perkembangan digital mempercepat akses informasi, tetapi juga meningkatkan risiko hoaks, ujaran kebencian, radikalisme, dan penetrasi nilai yang dapat melemahkan jati diri bangsa.
Dalam konteks nasional, karakter generasi muda berkaitan dengan seluruh aspek kehidupan bangsa, mulai dari ideologi, politik, ekonomi, sosial budaya hingga pertahanan dan keamanan. Karena itu, diperlukan generasi yang ber-Pancasila, toleran, produktif, mandiri, memiliki kesadaran bela negara, dan tangguh menghadapi ancaman digital maupun nonmiliter.
KKP menggunakan konsep kepemimpinan transformasional Burns dan Bass yang menekankan empat dimensi, yaitu keteladanan, motivasi inspiratif, stimulasi intelektual, dan perhatian individual. Keempatnya diarahkan untuk mengubah nilai, pola pikir, sikap, dan perilaku generasi muda.
Konsep tersebut dipadukan dengan pembentukan karakter melalui moral knowing, moral feeling, dan moral action. Artinya, karakter tidak cukup dipahami, tetapi harus dihayati dan diwujudkan dalam perilaku sehingga melahirkan generasi berintegritas, resilien, kompeten, nasionalis, dan mampu memimpin secara kolaboratif.
Tantangan utama terletak pada belum sinergisnya keluarga, sekolah, dan masyarakat dalam membentuk karakter. Kondisi tersebut diperparah krisis keteladanan, dominasi kepemimpinan transaksional, serta pendidikan karakter yang masih cenderung teoritis dan belum konsisten dalam praktik.
