Indonesia tengah memasuki fase penting dalam pengembangan ekosistem kendaraan listrik. Melalui Kertas Kerja Perseorangan (KKP) berjudul “Strategi Kemitraan Pemerintah–Swasta Guna Menciptakan Kepastian Pasar Domestik Baterai EV”, Hj. Sari Suryanti, S.Tr.Par, peserta Pendidikan Pemantapan Pimpinan Nasional (P3N) XXVI Tahun 2025 Lemhannas RI, mengkaji strategi membangun kepastian pasar domestik baterai kendaraan listrik sekaligus memperkuat ketahanan nasional.
Kajian tersebut berangkat dari adanya ketimpangan antara perkembangan sisi pasokan dan permintaan dalam ekosistem kendaraan listrik nasional. Investasi manufaktur baterai telah berkembang pesat, tetapi belum sepenuhnya diimbangi dengan kepastian penyerapan produk di pasar domestik.
Kondisi ini menjadi tantangan strategis karena investasi dalam industri baterai membutuhkan pasar yang stabil dan dapat diprediksi. Tanpa jaminan permintaan, kapasitas produksi yang telah dibangun berisiko tidak terserap secara optimal dan menjadi kurang layak dari sisi pembiayaan.
Indonesia sebenarnya memiliki sejumlah modal strategis untuk mengembangkan industri kendaraan listrik. Ketersediaan sumber daya nikel, dukungan regulasi, kapasitas manufaktur baterai, serta pertumbuhan infrastruktur pengisian kendaraan listrik menjadi fondasi penting bagi pengembangan ekosistem tersebut.
Namun, kekuatan di sisi pasokan belum sepenuhnya diikuti kekuatan pada sisi permintaan. Salah satu gambaran yang disoroti dalam kajian adalah kapasitas produksi bus listrik nasional yang mencapai 3.100 unit per tahun, sementara jumlah bus listrik yang telah beroperasi baru mencapai 511 unit.
Kesenjangan tersebut menunjukkan perlunya mekanisme penyerapan pasar yang lebih terstruktur. Pemerintah dinilai tidak cukup hanya berperan sebagai regulator dan pemberi insentif, tetapi juga perlu mengambil peran strategis sebagai pembentuk pasar melalui pengadaan publik yang terencana.
Dalam kajiannya, Sari Suryanti menggunakan pendekatan deskriptif kualitatif berbasis studi pustaka dan data resmi. Analisis juga menggunakan perspektif Astagatra untuk menghubungkan aspek geografis, demografis, sumber daya alam, politik, ekonomi, sosial-budaya, serta pertahanan dan keamanan dengan pembangunan ekosistem kendaraan listrik.
