Peningkatan Peran Diplomasi Pertahanan Indonesia di Tengah Rivalitas Global AS–China untuk Memperkuat Ketahanan Nasional

Kertas Kerja Perorangan (KKP) karya Marsekal Pertama TNI Firman Wirayuda, S.T., M.Soc.Sc., peserta Pendidikan Pemantapan Pimpinan Nasional (P3N) XXV Tahun 2025 di Lembaga Ketahanan Nasional Republik Indonesia, berjudul “Peningkatan Peran Diplomasi Pertahanan Guna Menghadapi Pengaruh Rivalitas AS-China dalam Rangka Ketahanan Nasional”, mengangkat isu strategis mengenai bagaimana Indonesia harus memperkuat diplomasi pertahanan di tengah eskalasi rivalitas geopolitik antara Amerika Serikat dan Republik Rakyat Tiongkok. Kajian ini menempatkan diplomasi pertahanan sebagai instrumen penting untuk menjaga keseimbangan, kedaulatan, dan stabilitas nasional di tengah dinamika Indo-Pasifik yang semakin kompetitif. 

Rivalitas antara Amerika Serikat dan China dalam satu dekade terakhir berkembang dari sekadar kompetisi ekonomi menjadi persaingan multidimensi yang meliputi aspek militer, teknologi, hingga pengaruh diplomatik global. Kawasan Indo-Pasifik menjadi episentrum kontestasi tersebut, sehingga negara-negara di dalamnya, termasuk Indonesia, tidak dapat menghindari dampak langsung maupun tidak langsung dari dinamika tersebut.

Sebagai negara kepulauan terbesar di dunia dengan posisi strategis di jalur pelayaran internasional, Indonesia memiliki kepentingan vital dalam menjaga stabilitas kawasan. Letak geografis yang berada di persilangan dua samudra dan dua benua menjadikan Indonesia bukan hanya objek tarik-menarik kepentingan, tetapi juga aktor potensial penyeimbang dalam percaturan geopolitik regional.

Dalam konteks tersebut, diplomasi pertahanan menjadi pendekatan yang relevan dan adaptif. Diplomasi pertahanan tidak sekadar memanfaatkan kekuatan militer sebagai alat deterrence, tetapi juga sebagai sarana membangun kepercayaan, meningkatkan interoperabilitas, serta memperluas jejaring kerja sama strategis dengan berbagai negara tanpa harus terjebak dalam blok kekuatan tertentu.

Kajian ini menegaskan bahwa politik luar negeri bebas aktif Indonesia menjadi landasan fundamental dalam merespons rivalitas global. Prinsip tersebut memungkinkan Indonesia menjalin hubungan baik dengan kedua kekuatan besar, sembari tetap mengedepankan kepentingan nasional dan stabilitas kawasan sebagai prioritas utama.

Salah satu manifestasi konkret diplomasi pertahanan Indonesia adalah partisipasi aktif dalam latihan militer multilateral seperti Super Garuda Shield. Latihan ini tidak hanya meningkatkan kemampuan tempur dan koordinasi lintas negara, tetapi juga memperlihatkan posisi Indonesia sebagai mitra strategis yang terbuka terhadap kerja sama pertahanan yang inklusif dan transparan.

Scroll to Top