Kertas Kerja Perorangan (KKP) yang disusun oleh Brigadir Jenderal Polisi Eko Sulistyo Basuki berjudul “Akselerasi Transformasi Tata Kelola Digital Bidang Investasi Guna Mendukung Pertumbuhan Ekonomi Dalam Rangka Ketahanan Nasional” menghadirkan analisis strategis mengenai urgensi reformasi tata kelola investasi di era digital. Sebagai peserta Program Pendidikan Pemantapan Pimpinan Nasional (P3N) XXV Tahun 2025 di Lembaga Ketahanan Nasional Republik Indonesia, penulis menegaskan bahwa transformasi digital bukan sekadar agenda administratif, melainkan instrumen geopolitik dan geoekonomi untuk memperkuat daya tahan bangsa di tengah dinamika global.
Memasuki abad ke-21, lanskap persaingan investasi global semakin ditentukan oleh kecepatan layanan, kepastian hukum, transparansi, dan integrasi sistem digital. Negara-negara yang mampu mengorkestrasi tata kelola digital secara adaptif terbukti lebih tangguh menghadapi krisis, termasuk pascapandemi. Dalam konteks ini, Indonesia tidak dapat lagi mengandalkan pendekatan birokrasi konvensional yang fragmentatif, melainkan harus melakukan akselerasi transformasi berbasis data, kolaborasi lintas sektor, dan integrasi pusat-daerah.
Secara global, arus Foreign Direct Investment (FDI) menunjukkan kecenderungan meningkat di negara-negara yang menerapkan model tata kelola kolaboratif dan digital. Transformasi ini menempatkan pemerintah sebagai orkestrator ekosistem, bukan sekadar regulator. Praktik tersebut memperlihatkan bahwa digitalisasi layanan investasi mampu memangkas biaya transaksi, mempercepat perizinan, serta meningkatkan kepercayaan investor terhadap stabilitas kebijakan.
Pengalaman Vietnam menjadi contoh konkret bagaimana strategi transformasi digital nasional yang terintegrasi mampu meningkatkan kontribusi ekonomi digital terhadap PDB secara signifikan. Integrasi layanan publik digital dari pusat hingga daerah serta penyederhanaan regulasi investasi berdampak langsung pada peningkatan arus modal asing dan pertumbuhan sektor strategis seperti manufaktur dan ekonomi digital.
Di kawasan Asia Timur, Korea Selatan menunjukkan keberhasilan melalui investasi masif pada infrastruktur kecerdasan buatan dan sistem pemerintahan cerdas. Kolaborasi erat antara pemerintah dan industri teknologi menciptakan ekosistem investasi yang responsif, adaptif, dan berbasis inovasi. Model ini memperkuat ketahanan ekonomi nasional melalui diversifikasi sektor bernilai tambah tinggi.
