Keberadaan sektor keuangan sebagai pilar tambahan dalam Hexa Helix menjadi pembeda penting dibandingkan pendekatan kolaboratif sebelumnya. Pembiayaan berkelanjutan, investasi hijau, serta pengelolaan risiko iklim dipandang sebagai kunci percepatan transisi menuju ekonomi hijau dan penguatan ketahanan lingkungan nasional.
Namun demikian, KKP ini juga mengungkap bahwa implementasi kemitraan Hexa Helix di Indonesia masih menghadapi berbagai tantangan struktural. Fragmentasi kelembagaan, lemahnya koordinasi lintas sektor, ego sektoral, serta ketimpangan kapasitas antaraktor menjadi penghambat utama efektivitas kolaborasi dalam menghadapi perubahan iklim.
Di sisi lain, tingkat pemahaman dan literasi perubahan iklim di kalangan masyarakat dan sebagian pemangku kepentingan masih relatif rendah. Hal ini berdampak pada minimnya partisipasi publik yang substantif serta belum terbangunnya perubahan perilaku kolektif yang mendukung upaya mitigasi dan adaptasi iklim.
Peran akademisi sebagai penghasil pengetahuan dan inovasi juga belum sepenuhnya terintegrasi dalam proses perumusan dan implementasi kebijakan. Hasil riset dan kajian ilmiah sering kali berhenti pada tataran konseptual, tanpa mekanisme hilirisasi yang kuat menuju kebijakan publik atau praktik di lapangan.
Sektor dunia usaha, meskipun memiliki potensi besar sebagai penggerak ekonomi, masih cenderung berorientasi pada keuntungan jangka pendek dan belum secara luas mengadopsi prinsip Environmental, Social, and Governance (ESG). Rendahnya insentif dan kepastian regulasi menjadi faktor yang memengaruhi minimnya keterlibatan sektor swasta dalam agenda iklim nasional.
Media massa, yang seharusnya berperan sebagai agen edukasi dan pembentuk opini publik, juga dinilai belum optimal dalam mengarusutamakan isu perubahan iklim. Dominasi pemberitaan politik dan ekonomi jangka pendek membuat isu lingkungan kerap terpinggirkan dari perhatian publik.
Melalui analisis ASTAGATRA dan SWOT-TOWS, KKP ini mengidentifikasi sejumlah peluang strategis yang dapat dimanfaatkan untuk memperkuat kemitraan Hexa Helix. Kerangka Ketahanan Nasional digunakan untuk memetakan keterkaitan antara aspek geografi, demografi, sumber daya alam, ideologi, politik, ekonomi, sosial budaya, serta pertahanan dan keamanan dalam konteks perubahan iklim.
