Kertas Kerja Perorangan (KKP) yang disusun oleh Brigadir Jenderal TNI Dany Rakca, S.A.P., M.Han., dalam Program Pendidikan Pemantapan Pimpinan Nasional (P3N) XXVI Lemhannas RI Tahun 2025 mengangkat judul “Penguatan Kapasitas Energi Terbarukan Guna Mendukung Logistik Pertahanan Dalam Rangka Ketahanan Nasional” sebagai sebuah kontribusi pemikiran strategis terhadap isu krusial nasional. Karya ini menyoroti pentingnya transformasi energi dalam sektor pertahanan sebagai bagian integral dari upaya memperkuat ketahanan nasional secara menyeluruh.
Isu energi dalam sektor pertahanan menjadi semakin penting di tengah dinamika geopolitik global dan meningkatnya kebutuhan operasional militer yang bergantung pada pasokan energi yang stabil dan berkelanjutan. Ketergantungan yang tinggi terhadap energi fosil menjadi tantangan serius yang berpotensi mengganggu kesiapan logistik pertahanan dalam jangka panjang.
Dalam konteks tersebut, energi terbarukan hadir sebagai solusi strategis untuk mengurangi ketergantungan terhadap energi fosil sekaligus meningkatkan kemandirian energi nasional. Pemanfaatan energi terbarukan tidak hanya berkontribusi pada efisiensi operasional, tetapi juga memperkuat ketahanan sistem logistik pertahanan yang adaptif dan berkelanjutan.
KKP ini mengidentifikasi adanya kesenjangan signifikan antara potensi energi terbarukan yang dimiliki Indonesia dengan tingkat pemanfaatannya di sektor pertahanan. Saat ini, pemanfaatan energi terbarukan masih sangat minim dibandingkan dengan kebutuhan energi yang terus meningkat, khususnya dalam mendukung operasi militer.
Berbagai faktor menjadi penyebab rendahnya implementasi energi terbarukan, mulai dari keterbatasan regulasi yang belum terintegrasi, hingga kurangnya komitmen politik dan dukungan anggaran. Selain itu, tantangan teknis seperti kesesuaian teknologi dengan alat utama sistem persenjataan juga turut menghambat proses transisi energi.
Kondisi geografis Indonesia yang terdiri dari ribuan pulau dengan karakteristik wilayah yang beragam juga menjadi tantangan tersendiri dalam pengembangan infrastruktur energi terbarukan. Wilayah perbatasan dan daerah tertinggal membutuhkan pendekatan khusus agar dapat terlayani secara optimal.
Dalam kajian ini, penulis menggunakan pendekatan deskriptif-empiris dengan mengombinasikan data primer dan sekunder untuk memperoleh gambaran yang komprehensif mengenai kondisi aktual energi dalam sektor pertahanan. Metode ini memungkinkan analisis yang lebih mendalam terhadap faktor-faktor yang mempengaruhi kapasitas energi terbarukan.
