Revitalisasi Pangan Lokal sebagai Pilar Kedaulatan Ekonomi dan Ketahanan Nasional

Dr. H. Andree Harmadi Algamar, S.STP., S.H., M.Si., M.Han., sebagai peserta Pendidikan Pemantapan Pimpinan Nasional (P3N) XXV Lemhannas RI Tahun 2025, menyusun Kertas Kerja Perorangan (KKP) berjudul “Revitalisasi Pangan Lokal Guna Kedaulatan Ekonomi dalam Rangka Ketahanan Nasional” yang mengangkat isu strategis ketahanan pangan sebagai fondasi utama kekuatan bangsa dalam menghadapi dinamika tantangan global dan nasional.

Gagasan utama dalam KKP ini berangkat dari realitas bahwa Indonesia memiliki kekayaan sumber daya pangan lokal yang sangat melimpah dan beragam, namun belum dimanfaatkan secara optimal untuk menopang kemandirian ekonomi dan ketahanan nasional. Ketergantungan pada impor pangan strategis masih menjadi persoalan serius yang berpotensi melemahkan posisi Indonesia dalam percaturan ekonomi global.

Pangan lokal seperti sagu, jagung, singkong, ubi jalar, dan sorgum sesungguhnya telah lama menjadi bagian dari budaya konsumsi masyarakat Nusantara. Komoditas-komoditas tersebut bukan hanya sumber karbohidrat alternatif, tetapi juga mencerminkan kearifan lokal yang tumbuh dan berkembang seiring sejarah bangsa Indonesia.

Dalam konteks ketahanan nasional, ketahanan pangan memiliki peran yang sangat strategis karena berkaitan langsung dengan stabilitas sosial, ekonomi, dan politik. Ketidakmampuan suatu negara dalam memenuhi kebutuhan pangannya sendiri dapat menimbulkan kerentanan multidimensional yang berdampak luas terhadap keberlangsungan pembangunan nasional.

KKP ini menegaskan bahwa revitalisasi pangan lokal bukan sekadar upaya meningkatkan produksi, melainkan sebuah strategi komprehensif yang mencakup penguatan ekosistem pangan dari hulu hingga hilir. Mulai dari perlindungan sumber daya alam, peningkatan kapasitas petani, pengembangan industri pengolahan, hingga transformasi pola konsumsi masyarakat.

Dr. Andree Harmadi Algamar menyoroti adanya kesenjangan antara potensi pangan lokal yang besar dengan tingkat pemanfaatannya yang masih rendah. Rendahnya preferensi masyarakat terhadap pangan lokal non-beras, keterbatasan teknologi pengolahan, serta lemahnya integrasi kebijakan lintas sektor menjadi faktor penghambat utama dalam pengembangan pangan lokal.

Di sisi lain, tantangan global seperti perubahan iklim, ketidakpastian geopolitik, dan gangguan rantai pasok internasional semakin mempertegas urgensi penguatan sistem pangan nasional yang mandiri. Ketergantungan pada impor pangan membuat Indonesia rentan terhadap fluktuasi harga dan kebijakan negara pemasok.

Scroll to Top