Dari perspektif ketahanan nasional, penyalahgunaan narkotika dipandang sebagai ancaman nonmiliter yang dapat melemahkan daya tahan bangsa dari dalam. Oleh karena itu, penguatan P4GN melalui kolaborasi lintas sektor harus ditempatkan sebagai bagian integral dari strategi pertahanan semesta.
Analisis SWOT yang digunakan dalam Taskap ini menunjukkan bahwa Indonesia memiliki peluang besar untuk memperkuat P4GN melalui modal sosial, dukungan regulasi, serta komitmen politik yang semakin menguat. Namun, peluang tersebut harus diimbangi dengan upaya serius mengatasi kelemahan internal dan ancaman eksternal yang terus berkembang.
Strategi kolaborasi lintas sektor yang diusulkan menekankan pada integrasi kebijakan, berbagi sumber daya, serta penguatan koordinasi dan kepemimpinan. Dengan demikian, setiap pemangku kepentingan tidak berjalan sendiri-sendiri, melainkan bergerak dalam satu orkestrasi kebijakan yang selaras.
Taskap ini merekomendasikan penguatan peran koordinator nasional, peningkatan kapasitas SDM lintas sektor, serta pemanfaatan teknologi informasi sebagai sarana integrasi data dan monitoring program P4GN. Langkah-langkah ini diharapkan mampu meningkatkan efektivitas dan akuntabilitas kebijakan.
Lebih jauh, kolaborasi lintas sektor juga dipandang sebagai sarana membangun rasa kepemilikan bersama terhadap isu narkotika, sehingga P4GN tidak semata menjadi agenda pemerintah, tetapi gerakan nasional yang melibatkan seluruh elemen bangsa.
Dengan pendekatan kolaboratif yang konsisten dan berkelanjutan, program P4GN diharapkan tidak hanya menekan angka prevalensi dan peredaran narkotika, tetapi juga memulihkan kualitas kehidupan sosial dan memperkuat karakter bangsa Indonesia.
Pada akhirnya, Taskap ini menegaskan bahwa kolaborasi lintas sektor merupakan keniscayaan strategis dalam menghadapi ancaman narkotika yang kompleks dan dinamis, sekaligus menjadi fondasi penting dalam menjaga ketahanan nasional dan mengawal perjalanan Indonesia menuju cita-cita besar Indonesia Emas 2045. (IP/GT)
