Hasil kajian mengidentifikasi empat isu strategis yang perlu mendapatkan perhatian. Keempat isu tersebut meliputi integrasi tata kelola sistem mutu hulu-hilir, penguatan kapasitas sistem mutu, transformasi penjaminan mutu berbasis risiko dan digital, serta peningkatan respons terhadap tuntutan pasar global, keberlanjutan, dan kesejahteraan masyarakat.
Pada aspek tata kelola, diperlukan orkestrasi nasional yang mampu mengintegrasikan kebijakan pusat dan daerah melalui pemanfaatan Sistem Pemerintahan Berbasis Elektronik (SPBE). Kampung produksi dapat ditempatkan sebagai simpul implementasi sehingga koordinasi, data, pengawasan, dan pelayanan mutu dapat berlangsung lebih terarah dan terukur.
Penguatan kapasitas diarahkan melalui pemetaan kebutuhan di tingkat kampung produksi, peningkatan kompetensi pelaku usaha, penyediaan sarana dan prasarana, fasilitasi sertifikasi, serta penguatan akses pembiayaan. Langkah tersebut penting untuk mengurangi kesenjangan kapasitas dan memastikan standar mutu dapat diterapkan secara konsisten.
Transformasi penjaminan mutu juga perlu dilakukan melalui pendekatan berbasis risiko dan digitalisasi. Pemetaan risiko, sertifikasi elektronik, sistem ketertelusuran, pemanfaatan Internet of Things, serta dashboard mutu terintegrasi dapat memperkuat pengawasan sekaligus menyediakan informasi yang lebih cepat dan akurat.
Sistem ketertelusuran yang terintegrasi akan memungkinkan proses pengawasan dilakukan sejak tahap produksi hingga produk mencapai pasar. Dengan dukungan data yang terhubung secara real time, pemerintah dapat meningkatkan pengawasan preventif, mempercepat respons terhadap risiko mutu, dan mendukung pengambilan kebijakan yang lebih tepat.
Dalam menghadapi pasar global, sistem mutu perlu disesuaikan dengan berbagai persyaratan perdagangan dan teknis negara tujuan. Ketentuan seperti Sanitary and Phytosanitary (SPS), Technical Barriers to Trade (TBT), FDA Import Alert, serta persyaratan teknis lainnya perlu diantisipasi agar produk perikanan Indonesia mampu memenuhi standar dan mempertahankan akses pasar internasional.
Hasil analisis SWOT menunjukkan posisi strategi berada pada Kuadran I dengan nilai IFAS sebesar 2,79 dan EFAS sebesar 2,76. Posisi tersebut menunjukkan dominasi kekuatan internal dan peluang eksternal sehingga strategi yang direkomendasikan adalah Strength–Opportunity (SO), yaitu memanfaatkan kekuatan yang dimiliki untuk menangkap peluang pengembangan sektor perikanan.
