Mewujudkan Swasembada Pangan Berbasis Potensi Lokal sebagai Pilar Strategis Ketahanan Nasional

Ketahanan pangan merupakan salah satu fondasi utama dalam menjaga keberlangsungan pembangunan nasional sekaligus memperkuat Ketahanan Nasional di tengah dinamika global yang semakin kompleks. Berangkat dari pemikiran tersebut, peserta Pendidikan Pemantapan Pimpinan Nasional (P3N) XXVI Lemhannas RI, Erwan Andrian, S.E., M.M., menyusun Kertas Kerja Perorangan (KKP) berjudul “Peningkatan Produksi dan Produktivitas Pangan Lokal Guna Mewujudkan Swasembada Pangan dalam Rangka Ketahanan Nasional”. Karya ilmiah ini mengangkat pentingnya penguatan kapasitas produksi pangan dalam negeri sebagai upaya strategis menghadapi tantangan ketahanan pangan global yang semakin dinamis.

Dalam kajiannya, penulis menegaskan bahwa ketahanan pangan tidak lagi sekadar persoalan sektor pertanian, melainkan telah berkembang menjadi isu strategis yang memiliki keterkaitan erat dengan stabilitas ekonomi, sosial, politik, hingga pertahanan negara. Berbagai krisis global yang dipicu konflik geopolitik, perubahan iklim, gangguan rantai pasok, serta fluktuasi harga pangan dunia menjadi indikator bahwa setiap negara harus memperkuat kemampuan produksinya secara mandiri agar tidak rentan terhadap tekanan eksternal.

Indonesia sebagai negara agraris yang memiliki sumber daya alam melimpah sesungguhnya mempunyai modal besar untuk mewujudkan kemandirian pangan. Namun demikian, berbagai tantangan masih membayangi sektor pertanian nasional, mulai dari penyusutan lahan produktif, rendahnya regenerasi petani, keterbatasan adopsi teknologi pertanian modern, hingga ketergantungan terhadap impor sejumlah komoditas strategis yang masih relatif tinggi.

Melalui pendekatan kualitatif deskriptif dan analisis Astagatra dalam perspektif Ketahanan Nasional, KKP ini berupaya memberikan gambaran komprehensif mengenai kondisi aktual produksi dan produktivitas pangan lokal, faktor-faktor yang memengaruhinya, serta strategi yang dapat diterapkan untuk mendukung terwujudnya swasembada pangan secara berkelanjutan. 

Provinsi Jawa Tengah dipilih sebagai lokus kajian karena memiliki posisi strategis sebagai salah satu lumbung pangan nasional. Kontribusi provinsi ini terhadap produksi padi nasional sangat signifikan dan menjadi penyangga utama kebutuhan pangan masyarakat Indonesia. 

Scroll to Top