Inspektur Jenderal Polisi Dr. Barito Mulyo Ratmono, S.H., S.I.K., M.Si., peserta Pendidikan Pemantapan Pimpinan Nasional (P3N) XXVI Tahun 2025, menyusun Kertas Kerja Perorangan (KKP) berjudul “Koperasi Pertanian sebagai Engine of Growth guna Mendukung Swasembada Pangan dalam Rangka Terwujudnya Ketahanan Nasional” sebagai kontribusi pemikiran strategis terhadap penguatan sektor pangan nasional.
Tulisan ini berangkat dari kesadaran bahwa ketahanan pangan merupakan fondasi utama ketahanan nasional, terutama di tengah dinamika global yang penuh ketidakpastian akibat perubahan iklim, konflik geopolitik, dan gangguan rantai pasok pangan dunia. Kondisi tersebut menuntut Indonesia memiliki sistem pangan yang mandiri dan tangguh.
Dalam konteks tersebut, koperasi pertanian dipandang sebagai instrumen strategis yang mampu menjadi penggerak ekonomi rakyat sekaligus penguat struktur produksi pangan nasional. Koperasi tidak hanya berfungsi sebagai lembaga ekonomi, tetapi juga sebagai wadah kolektif yang memperkuat posisi tawar petani.
KKP ini mengangkat tiga isu utama yang menjadi tantangan sekaligus peluang bagi penguatan koperasi pertanian, yaitu kualitas sumber daya manusia, efektivitas pendanaan, serta tata kelola yang profesional dan berdaya saing. Ketiga aspek ini menjadi kunci dalam menjadikan koperasi sebagai engine of growth.
Permasalahan sumber daya manusia menjadi sorotan utama karena masih rendahnya kompetensi manajerial, literasi keuangan, serta kemampuan pemanfaatan teknologi di kalangan pengurus koperasi. Kondisi ini menyebabkan koperasi sulit berkembang secara optimal dalam menghadapi persaingan modern.
Selain itu, struktur demografi koperasi yang didominasi oleh anggota berusia lanjut menunjukkan lemahnya regenerasi dan kurangnya minat generasi muda untuk terlibat dalam pengelolaan koperasi. Hal ini menjadi tantangan serius dalam keberlanjutan kelembagaan koperasi di masa depan.
Dalam aspek pendanaan, koperasi pertanian masih menghadapi keterbatasan akses terhadap sumber pembiayaan yang memadai dan berkelanjutan. Padahal, dukungan permodalan merupakan faktor penting dalam meningkatkan kapasitas produksi dan nilai tambah hasil pertanian.
