Kertas Kerja Perorangan (KKP) yang disusun oleh Marsekal Pertama TNI Solihin, S.IP., dalam program Pendidikan Pemantapan Pimpinan Tingkat Nasional (P3N) XXV mengangkat judul “Pengelolaan Tantangan Pembangunan Kebudayaan Indonesia dalam Menghadapi Geopolitik Popular Guna Menjaga Norma dan Identitas dalam Rangka Ketahanan Nasional.” Kajian ini menyoroti pentingnya penguatan kebudayaan nasional di tengah derasnya arus globalisasi dan digitalisasi yang membentuk dinamika baru dalam interaksi budaya dunia. Dalam konteks tersebut, pembangunan kebudayaan tidak lagi sekadar pelestarian tradisi, melainkan juga menjadi strategi penting untuk menjaga identitas bangsa sekaligus memperkuat ketahanan nasional.
Perkembangan global yang ditandai oleh kemajuan teknologi informasi telah mempercepat pertukaran budaya lintas negara. Budaya populer global kini hadir melalui berbagai platform digital yang mudah diakses masyarakat, terutama generasi muda. Kondisi ini menciptakan ruang interaksi budaya yang sangat dinamis, namun di sisi lain juga memunculkan tantangan serius terhadap eksistensi budaya lokal.
Indonesia sendiri memiliki kekayaan budaya yang sangat beragam dengan ribuan etnis, bahasa daerah, serta tradisi yang berkembang di berbagai wilayah. Keragaman tersebut merupakan kekuatan strategis yang tidak hanya memperkuat kohesi sosial, tetapi juga menjadi modal penting dalam membangun citra Indonesia di tingkat global. Nilai-nilai budaya yang diwariskan secara turun-temurun berperan sebagai perekat persatuan dalam kehidupan masyarakat yang majemuk.
Namun di tengah kekayaan budaya tersebut, Indonesia juga menghadapi berbagai tantangan dalam upaya pemajuan kebudayaan. Globalisasi telah membawa pengaruh budaya asing yang begitu kuat melalui media hiburan, musik, film, hingga gaya hidup modern. Budaya populer global yang didukung oleh kekuatan industri kreatif dan teknologi digital mampu menjangkau masyarakat luas dalam waktu singkat, sehingga mempengaruhi preferensi dan pola konsumsi budaya generasi muda.
Fenomena dominasi budaya populer asing dapat dilihat dari tingginya popularitas musik, film, dan gaya hidup dari berbagai negara yang dengan mudah diakses melalui media sosial. Generasi muda menjadi kelompok yang paling rentan terpengaruh karena mereka merupakan pengguna utama platform digital. Kondisi ini menimbulkan kekhawatiran akan terjadinya erosi budaya lokal jika tidak diimbangi dengan upaya penguatan identitas budaya nasional.
