Kertas Kerja Perorangan (KKP) yang disusun oleh Marsekal Pertama TNI Soegeng Ryady, S.T. dengan judul “Revitalisasi Kebijakan Indonesia dalam Mengantisipasi Pengaruh Konflik India–Pakistan Guna Mendukung Politik Luar Negeri dalam Rangka Ketahanan Nasional” menjadi salah satu kajian strategis dalam program Pendidikan Pemantapan Pimpinan Nasional (P3N) di Lembaga Ketahanan Nasional Republik Indonesia. Karya ilmiah ini mengangkat isu geopolitik yang sangat relevan di tengah meningkatnya dinamika keamanan global, khususnya ketegangan antara India dan Pakistan yang berpotensi memberikan dampak tidak langsung terhadap stabilitas kawasan dan kepentingan nasional Indonesia.
Konflik antara India dan Pakistan merupakan salah satu sengketa geopolitik paling lama di dunia modern yang berakar sejak pemisahan kedua negara pada tahun 1947. Perselisihan yang berpusat pada wilayah Kashmir tersebut tidak hanya melibatkan aspek territorial, tetapi juga dipengaruhi oleh perbedaan politik, identitas nasional, serta kepentingan strategis kedua negara. Kondisi ini semakin kompleks karena India dan Pakistan merupakan negara pemilik senjata nuklir, sehingga setiap eskalasi konflik memiliki potensi membawa dampak luas terhadap stabilitas regional bahkan global.
Eskalasi konflik yang kembali meningkat pada tahun 2025 menjadi perhatian serius masyarakat internasional. Ketegangan dipicu oleh serangan teror di wilayah Kashmir yang memicu reaksi militer dan diplomatik dari kedua negara. Serangkaian tindakan balasan, termasuk operasi militer dan pembatasan hubungan diplomatik, memperlihatkan bahwa konflik ini masih jauh dari penyelesaian permanen. Situasi tersebut memunculkan kekhawatiran mengenai kemungkinan meningkatnya konflik terbuka yang dapat mengganggu stabilitas keamanan di kawasan Asia Selatan.
Bagi Indonesia, konflik India–Pakistan tidak dapat dipandang sebagai isu yang sepenuhnya jauh dari kepentingan nasional. Sebagai negara dengan posisi strategis di kawasan Indo-Pasifik serta memiliki hubungan diplomatik dan ekonomi yang erat dengan kedua negara, Indonesia memiliki kepentingan untuk memastikan stabilitas kawasan tetap terjaga. Gangguan terhadap stabilitas regional dapat berdampak pada berbagai sektor mulai dari ekonomi, keamanan, hingga hubungan diplomatik internasional.
Dalam perspektif ekonomi, India merupakan salah satu mitra dagang utama Indonesia dengan pangsa ekspor yang signifikan, sementara Pakistan juga menjadi pasar penting bagi beberapa komoditas strategis. Produk seperti minyak kelapa sawit dan batu bara menjadi komoditas utama yang diperdagangkan antara Indonesia dengan kedua negara tersebut. Apabila konflik berkepanjangan mengganggu stabilitas ekonomi atau logistik di kawasan, maka hal tersebut dapat berdampak langsung pada perdagangan dan rantai pasok global yang melibatkan Indonesia.
