Keterbatasan ini semakin terasa di wilayah terpencil dan daerah kepulauan. Distribusi tenaga kesehatan yang tidak merata menyebabkan banyak masyarakat tidak memiliki akses terhadap layanan kesehatan mental yang memadai.
Dari perspektif kebijakan, pembangunan kesehatan mental juga menghadapi tantangan terkait prioritas anggaran dan koordinasi antar lembaga. Alokasi anggaran kesehatan yang masih terbatas membuat berbagai program kesehatan mental belum dapat berjalan secara optimal.
Padahal gangguan kesehatan mental dapat menimbulkan kerugian ekonomi yang sangat besar bagi negara. Penurunan produktivitas tenaga kerja, meningkatnya biaya perawatan kesehatan, serta hilangnya potensi ekonomi masyarakat merupakan dampak nyata dari masalah kesehatan mental yang tidak tertangani.
Untuk menjawab tantangan tersebut, diperlukan strategi akselerasi pembangunan kesehatan mental yang bersifat komprehensif dan terintegrasi. Strategi ini meliputi peningkatan literasi kesehatan mental, penguatan layanan kesehatan, pemanfaatan teknologi digital, serta penguatan peran keluarga dan sekolah.
Melalui implementasi strategi yang tepat dan kolaborasi antara pemerintah, masyarakat, dan berbagai pemangku kepentingan, pembangunan kesehatan mental di Indonesia diharapkan mampu menciptakan sumber daya manusia yang tangguh, produktif, dan berdaya saing, sehingga pada akhirnya memperkuat ketahanan nasional dan mendukung terwujudnya Indonesia maju di masa depan. (IP/GT)
