Dalam jangka menengah, strategi diarahkan pada pembangunan industri manufaktur komponen EBT dalam negeri, diplomasi energi regional, serta penguatan skema pembiayaan hijau melalui perbankan nasional dan internasional.
Sementara itu, strategi jangka panjang mencakup pembangunan infrastruktur transmisi terintegrasi nasional, pengembangan teknologi penyimpanan energi, serta eksplorasi maksimal potensi panas bumi dan energi laut.
Secara konseptual, transformasi ekonomi hijau juga dipahami sebagai bagian dari implementasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan yang diinisiasi oleh Perserikatan Bangsa-Bangsa, yang menekankan keseimbangan antara pertumbuhan ekonomi, perlindungan lingkungan, dan keadilan sosial.
Melalui KKP ini, Frederick Situmorang menunjukkan bahwa percepatan transformasi ekonomi hijau bukan sekadar agenda sektoral, melainkan strategi nasional yang menyeluruh dan berjangka panjang. Dengan komitmen politik yang kuat, kebijakan terintegrasi, serta kolaborasi seluruh pemangku kepentingan, Indonesia berpeluang besar menjadikan energi terbarukan sebagai motor pertumbuhan ekonomi sekaligus fondasi ketahanan nasional yang tangguh dan berkelanjutan. (AT/GT)
