Akselerasi Transformasi Ekonomi Hijau untuk Ketahanan Nasional

Marsekal Muda TNI Frederick Situmorang melalui Kertas Kerja Perorangan (KKP) berjudul “Percepatan Transformasi Ekonomi Hijau Indonesia Guna Mendukung Pertumbuhan Ekonomi Dalam Rangka Ketahanan Nasional” yang disusun dalam program Pendidikan Pemantapan Pimpinan Nasional (P3N) XXV di Lembaga Ketahanan Nasional Republik Indonesia Tahun 2025, menghadirkan analisis komprehensif mengenai urgensi transisi energi berbasis Energi Baru Terbarukan (EBT) sebagai fondasi penguatan pertumbuhan ekonomi dan ketahanan nasional. Karya ini menempatkan ekonomi hijau bukan sekadar wacana global, melainkan kebutuhan strategis bangsa dalam menghadapi tantangan geopolitik, krisis energi, dan perubahan iklim.

Transformasi ekonomi hijau diposisikan sebagai respons atas tingginya ketergantungan Indonesia terhadap energi fosil yang berdampak pada emisi karbon dan kerentanan ekonomi. Dengan cadangan EBT yang melimpah, mulai dari tenaga surya, hidro, panas bumi, angin hingga bioenergi. Indonesia memiliki modal alamiah yang besar untuk melakukan lompatan strategis menuju sistem energi bersih dan berkelanjutan.

Dalam kajiannya, penulis menekankan bahwa potensi EBT nasional yang mencapai ratusan gigawatt belum dimanfaatkan secara optimal. Realisasi bauran energi terbarukan masih berada di bawah target nasional, sehingga diperlukan percepatan kebijakan dan konsolidasi lintas sektor untuk menutup kesenjangan antara potensi dan implementasi.

KKP ini menggarisbawahi bahwa percepatan transformasi ekonomi hijau harus diletakkan dalam kerangka ketahanan nasional. Ketahanan energi menjadi bagian integral dari ketahanan ekonomi, yang selanjutnya menopang stabilitas politik, sosial, dan pertahanan negara. Dengan demikian, transisi energi bukan hanya agenda lingkungan, tetapi agenda strategis kebangsaan.

Analisis dalam naskah menggunakan pendekatan SWOT, AHP, IFAS, EFAS, dan SFAS untuk memetakan kekuatan, kelemahan, peluang, dan ancaman dalam pengembangan EBT. Pendekatan ini menghasilkan rekomendasi berbasis pembobotan prioritas yang aplikatif dan terukur dalam jangka pendek, menengah, dan panjang.

Dari sisi kekuatan, Indonesia memiliki dukungan regulasi seperti RUEN, KEN, serta komitmen dalam Perjanjian Paris. Selain itu, posisi geografis sebagai negara tropis memberikan keunggulan komparatif dalam pengembangan tenaga surya dan biomassa.

Scroll to Top