Kertas Kerja Perorangan (KKP) berjudul “Penguatan Diplomasi Pertahanan Guna Mereduksi Pengaruh Rivalitas Kekuatan Global Dalam Rangka Mewujudkan Ketahanan Nasional” yang ditulis oleh Brigadir Jenderal TNI Franz Y. Purba, S.I.P., M.M., M.Han., peserta Program Pendidikan Pemantapan Pimpinan Nasional (P3N) XXV Lembaga Ketahanan Nasional Republik Indonesia Tahun 2025, mengangkat isu strategis mengenai bagaimana Indonesia harus memosisikan diri di tengah rivalitas kekuatan besar dunia, khususnya antara Amerika Serikat dan Tiongkok, agar tetap mampu menjaga kedaulatan dan memperkuat ketahanan nasional.
Dalam pengantarnya ditegaskan bahwa dinamika global saat ini berada dalam kondisi VUCA—volatility, uncertainty, complexity, dan ambiguity—yang menuntut negara-negara untuk tidak lagi mengandalkan pendekatan konvensional dalam menjaga stabilitas nasional. Lonjakan konflik global, ketidakpastian ekonomi, serta ketegangan geopolitik di kawasan Indo-Pasifik menjadi konteks utama yang membingkai urgensi penguatan diplomasi pertahanan Indonesia.
Kawasan Indo-Pasifik kini menjadi episentrum rivalitas global abad ke-21. Strategi Free and Open Indo-Pacific yang diusung Amerika Serikat berhadapan dengan ekspansi geoekonomi dan infrastruktur Tiongkok melalui inisiatif globalnya. Ketegangan di Laut Cina Selatan, Selat Taiwan, hingga perlombaan teknologi dan militer menciptakan tekanan baru terhadap negara-negara kawasan, termasuk Indonesia.
Sebagai negara kepulauan terbesar yang berada di jalur silang dua samudera dan dua benua, Indonesia memiliki posisi strategis sekaligus rentan. Letak geografis tersebut menjadikan Indonesia sebagai aktor kunci dalam stabilitas kawasan, namun juga berpotensi menjadi arena tarik-menarik kepentingan kekuatan besar jika tidak dikelola dengan kebijakan yang tepat.
KKP ini menekankan bahwa Indonesia dihadapkan pada dua pilihan strategis: menjadi objek dari rivalitas global atau menjadi subjek yang aktif mengelola dinamika tersebut. Konsep “mereduksi pengaruh” dalam konteks ini bukan berarti menjauh dari interaksi global, melainkan meminimalisasi dampak negatifnya terhadap kepentingan nasional melalui strategi yang cerdas dan terukur.
Dalam kerangka teori geopolitik rimland yang dikemukakan oleh Nicholas J. Spykman, wilayah seperti Indonesia memiliki arti penting dalam menentukan keseimbangan kekuatan global. Oleh sebab itu, diplomasi pertahanan menjadi instrumen vital untuk memastikan bahwa posisi strategis tersebut dimanfaatkan untuk memperkuat daya tawar, bukan justru menjadi titik lemah.
