Pemberdayaan Geopolitik Aceh untuk Ketahanan Nasional Indonesia di Wilayah Barat

Kertas Kerja Perseorangan (KKP) yang disusun oleh Dr. (C) H. Fachrul Razi, M.I.P., M.Si., MH., M.Ikom., dengan judul Pemberdayaan Geopolitik dan Geostrategi Indonesia dalam Memperkuat Ketahanan Nasional: Studi Kasus Posisi Strategis Aceh di Indonesia Wilayah Barat, menjadi salah satu kontribusi pemikiran strategis dalam Program Pendidikan Pemantapan Pimpinan Nasional (P3N) XXV Lemhannas RI Tahun 2025 yang menegaskan kembali pentingnya Aceh dalam arsitektur ketahanan nasional Indonesia.

Tulisan ini berangkat dari realitas dinamika global yang ditandai oleh pergeseran kekuatan geopolitik, meningkatnya persaingan negara besar, serta munculnya berbagai ancaman nontradisional yang berdampak langsung pada stabilitas kawasan dan kepentingan nasional Indonesia, khususnya di wilayah barat yang berhadapan langsung dengan Samudra Hindia dan Selat Malaka.

Wilayah Indonesia bagian barat memiliki nilai strategis yang sangat tinggi karena menjadi jalur utama perdagangan dan energi dunia. Selat Malaka, yang dilalui sebagian besar arus perdagangan global, menjadikan kawasan ini sebagai titik krusial dalam rantai pasok internasional sekaligus kawasan yang rentan terhadap gangguan keamanan dan persaingan geopolitik.

Dalam konteks tersebut, Aceh menempati posisi istimewa sebagai gerbang barat Negara Kesatuan Republik Indonesia. Letak geografisnya di persimpangan Samudra Hindia dan Selat Malaka memberikan Aceh peran strategis tidak hanya sebagai wilayah terdepan pertahanan maritim, tetapi juga sebagai simpul penting dalam konektivitas ekonomi dan diplomasi regional.

Status Aceh sebagai daerah dengan otonomi khusus memperkuat relevansinya dalam kajian geopolitik dan geostrategi nasional. Kewenangan yang dimiliki Aceh dalam pengelolaan sumber daya alam, tata kelola pemerintahan, serta pengembangan ekonomi lokal membuka peluang besar untuk mendukung agenda ketahanan nasional secara lebih terintegrasi.

KKP ini menegaskan bahwa ketahanan nasional tidak semata-mata ditentukan oleh kekuatan militer, melainkan oleh kemampuan bangsa dalam mengelola seluruh potensi nasional secara menyeluruh, mencakup aspek ideologi, politik, ekonomi, sosial budaya, serta pertahanan dan keamanan dalam satu kesatuan yang utuh.

Aceh memiliki kekuatan geopolitik yang signifikan, mulai dari posisi geografis strategis, potensi sumber daya migas dan kelautan, hingga peluang pengembangan pelabuhan internasional seperti Sabang yang dapat berfungsi sebagai hub maritim regional dan penguat visi Indonesia sebagai Poros Maritim Dunia.

Scroll to Top