SIRENA selanjutnya dapat dikembangkan untuk mendukung pemantauan perjalanan pemulihan klien secara lebih terukur. Hasil asesmen dan perkembangan klien dapat terdokumentasi, termasuk perubahan tahapan perilaku maupun kondisi ketika terjadi relapse, sehingga strategi intervensi dapat disesuaikan dengan kebutuhan.
Pengembangan fitur digital juga diarahkan agar lebih responsif terhadap kebutuhan klien. KKP mengusulkan antara lain penyediaan konten edukasi digital, alat bantu pengambilan keputusan, penyusunan rencana perubahan, pencatatan pemicu penggunaan narkoba, hingga pengingat pencegahan kekambuhan. Dengan demikian, teknologi dapat mendukung proses pemulihan secara berkelanjutan.
Dari sisi implementasi, tahap awal akselerasi SIRENA difokuskan pada penguatan fondasi dan kualitas data. Upaya tersebut mencakup pembersihan dan verifikasi data, penggunaan Nomor Rekam Rehabilitasi yang unik, pemanfaatan instrumen klinis digital, serta penataan hak akses sesuai peran petugas.
Pada tahap menengah, KKP mendorong integrasi dan harmonisasi layanan untuk memastikan kesinambungan pelayanan atau continuum of care. Salah satu langkah yang diusulkan adalah konektivitas SIRENA dengan SATUSEHAT serta pembangunan API agar pertukaran data antara BNN, Kementerian Kesehatan, dan Kementerian Sosial dapat berlangsung secara otomatis tanpa penginputan berulang.
Integrasi tersebut juga perlu didukung dengan penggunaan identitas yang konsisten, mekanisme pendeteksian data ganda, serta pemanfaatan data historis. Pengembangan dasbor dan pemetaan geografis dapat membantu memberikan gambaran wilayah yang membutuhkan perhatian lebih sekaligus mendukung pengambilan keputusan secara proaktif.
Penguatan SIRENA tidak hanya menyangkut aspek teknologi, tetapi juga regulasi dan tata kelola. KKP mendorong adanya pedoman nasional mengenai indikator keberhasilan rehabilitasi, pengaturan akses terhadap data sensitif, serta harmonisasi kebijakan di tingkat pusat dan daerah agar seluruh lembaga rehabilitasi dapat terhubung dalam sistem yang sama.
Jangkauan sistem juga perlu diperluas kepada lembaga rehabilitasi mitra dan masyarakat. Integrasi data dari lembaga komponen masyarakat dan Intervensi Berbasis Masyarakat (IBM), disertai mekanisme rujukan elektronik antarfasilitas, diharapkan dapat menjaga kesinambungan informasi ketika klien berpindah layanan. Pascarehabilitasi pun perlu diperkuat melalui pemantauan, kunjungan rumah, dan peningkatan kapital pemulihan.
