Ekoteologi sebagai Kekuatan Strategis Mengatasi Perubahan Iklim Menuju Indonesia Emas 2045

Prof. Dr. H. Abdurrohman Kasdi, Lc, M.Si. melalui Kertas Kerja Perorangan (KKP) Program Pendidikan Pemantapan Pimpinan Nasional (P3N) XXVII Lemhannas RI Tahun 2026 berjudul “Aktualisasi Ekoteologi dalam Perspektif Agama-Agama Guna Mengatasi Perubahan Iklim” mengangkat pentingnya nilai agama sebagai kekuatan strategis dalam menghadapi perubahan iklim. Karya ini memandang krisis lingkungan bukan hanya persoalan teknis dan ekonomi, tetapi juga berkaitan dengan moralitas serta hubungan manusia dengan alam.

Perubahan iklim telah menimbulkan berbagai dampak nyata di Indonesia, seperti banjir, kekeringan, gagal panen, deforestasi, dan krisis air. Kondisi tersebut menunjukkan bahwa pengelolaan lingkungan membutuhkan pendekatan yang lebih menyeluruh dengan melibatkan seluruh komponen masyarakat, termasuk lembaga dan komunitas keagamaan.

Ekoteologi menjadi pendekatan yang ditawarkan untuk memperkuat kesadaran ekologis melalui nilai dan ajaran agama. Ekoteologi menempatkan hubungan Tuhan, manusia, dan alam sebagai satu kesatuan moral sehingga menjaga lingkungan dipahami bukan sekadar kewajiban sosial, tetapi juga bagian dari tanggung jawab spiritual.

Perspektif berbagai agama memiliki nilai yang relevan dalam membangun kepedulian terhadap lingkungan. Islam mengenal konsep khalifah dan mizan, Kristen dan Katolik menekankan stewardship, Hindu melalui Tri Hita Karana, Buddha melalui ahimsa, serta Konghucu melalui prinsip keharmonisan manusia dengan alam.

Nilai-nilai tersebut dapat menjadi modal sosial untuk membangun perilaku ekologis masyarakat. Agama memiliki jaringan kelembagaan, tokoh, rumah ibadah, dan komunitas yang luas sehingga berpotensi menjadi kekuatan dalam meningkatkan kesadaran serta partisipasi masyarakat menghadapi perubahan iklim.

Dalam perspektif ketahanan nasional, persoalan lingkungan memiliki keterkaitan dengan seluruh aspek Asta Gatra. Kerusakan lingkungan dapat memengaruhi kondisi geografis, sumber kekayaan alam, demografi, ideologi, politik, ekonomi, sosial budaya, hingga pertahanan dan keamanan sehingga penanganannya perlu ditempatkan sebagai bagian dari strategi ketahanan nasional.

KKP ini menggunakan metode penelitian kualitatif deskriptif dengan memanfaatkan data sekunder dan studi kepustakaan. Analisis dilakukan melalui perspektif Asta Gatra dan SWOT untuk mengidentifikasi kondisi, peluang, tantangan, serta strategi aktualisasi ekoteologi dalam menghadapi perubahan iklim.

Scroll to Top