Marsekal Pertama TNI Bursok Prins A. Pardede, M.Han., melalui Kertas Kerja Perorangan (KKP) berjudul “Kebijakan Antisipasi Pengaruh Dinamika Geopolitik guna Peningkatan Kemampuan Pertahanan dan Keamanan dalam rangka Ketahanan Nasional” menghadirkan analisis strategis yang menempatkan Indonesia dalam posisi krusial di tengah perubahan tatanan global yang semakin dinamis.
Pendahuluan KKP ini tidak hanya menjelaskan latar belakang, tetapi secara analitis menegaskan bahwa perubahan geopolitik global telah menggeser pusat gravitasi kekuatan dunia ke Indo-Pasifik, sehingga Indonesia tidak lagi berada di pinggiran, melainkan di pusat interaksi kepentingan global yang sarat risiko sekaligus peluang.
Penulis secara kritis menilai bahwa peningkatan rivalitas kekuatan besar telah menciptakan kondisi “security dilemma” di kawasan, di mana setiap peningkatan kekuatan militer oleh satu negara memicu respons serupa dari negara lain, sehingga meningkatkan eskalasi ketegangan regional.
Analisis KKP ini juga menunjukkan bahwa ancaman terhadap Indonesia tidak lagi bersifat konvensional semata, melainkan telah berkembang menjadi ancaman multidimensi seperti perang siber, disinformasi, hingga tekanan ekonomi yang dapat melemahkan ketahanan nasional secara sistemik.
Dalam kerangka tersebut, Indonesia menghadapi dilema strategis antara menjaga netralitas melalui politik bebas aktif dan kebutuhan untuk meningkatkan kerja sama pertahanan dengan berbagai pihak guna menjaga stabilitas kawasan.
Penulis menilai bahwa kebijakan bebas aktif harus direinterpretasi secara adaptif, bukan sebagai sikap pasif, melainkan sebagai strategi aktif untuk memaksimalkan kepentingan nasional tanpa terjebak dalam blok geopolitik tertentu.
Dari sisi metodologi, penggunaan pendekatan kualitatif dengan analisis deskriptif memungkinkan penulis mengelaborasi fenomena geopolitik secara komprehensif, namun juga membuka ruang interpretasi yang luas dalam merumuskan kebijakan.
Secara teoritis, integrasi konsep pertahanan negara, human security, dan analisis PESTLE menunjukkan bahwa penulis berupaya melihat persoalan pertahanan secara lintas sektor, bukan sekadar dalam perspektif militer semata.
